Sudjiatmi, ibunda yang pernah bikin malu Jokowi
Lokadata.id

1 week ago

Sudjiatmi, ibunda yang pernah bikin malu Jokowi

Perempuan 77 tahun itu telah berpulang di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2020). Masyarakat dan media menyebutnya seorang ibu yang bersahaja. Dialah yang melahirkan Joko Widodo dan ketiga adik perempuannya, berayahkan Widjiatno Notomihardjo. Joko, yang kemudian menjadi Jokowi, akhirnya menjadi presiden.

Ada yang menuliskannya sebagai Sudjiatmi, dan ada pula Sujiatmi – termasuk berita Antara sebelum 2014, saat Jokowi menjadi calon presiden. Sudjiatmi wafat di RS Dinas Kesehatan Tentara Surakarta, pukul 16.45. Siang ini (26/3/2020) almarhumah dikebumikan di pemakaman keluarga, Mundu, Karanganyar, tak sampai sepuluh kilometer dari rumah duka.

Menurut Jokowi di rumah duka, Sumber, Banjarsari, "Ibu sudah empat tahun menderita sakit, yaitu kanker, dan sudah berobat. Kami semuanya sudah berusaha, berikhtiar, berobat utamanya di RSPAD Gatot Subroto, tetapi Allah sudah menghendak."

Jokowi dekat dengan ibunya. Namun ketika Jokowi berulang tahun ke-55 (2016), sang ibu bisa memahami putranya saat ditelepon hanya menjawab sebentar. "Karena masih sibuk kunjungan, Jokowi hanya bicara sebentar. Tetapi, kemudian menelepon lagi ke saya." ( Kompas, 22/6/2016)

Memboncengkan Jokowi

Kedekatan Sudjiatmi dengan anak sulungnya dia ceritakan sendiri dalam buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (Francisca Ria Susanti dan Kristin Samah, 2014), yakni dengan sepeda motor bebek mengantar jemput Jokowi, memboncengkannya, ke dan dari SMAN 6 Surakarta.

Dia harus mengawal si sulung yang baru sembuh dari tifus. Lebih dari itu, saat kelas satu, Jokowi tampak nglokro (lesu) dan malas bersekolah (juga membolos) akibat tak diterima di SMAN 1.

Sudjiatmi mengenang, "Teman-temannya suka mengolok-olok setiap kali saya menjemputnya. Mereka bilang, ' Kaé, kowé dipenthuk mbakyumu .'" Arttinya, "Tuh kamu dijemput kakak perempuanmu."

ADVERTISEMENT

Saat itu Sudjiatmi 34 tahun, Jokowi 16 tahun. Sudjiatmi dan Widjiatno menikah ketika masing-masing berusia 16 dan 19 tahun

Ketika tiga tahun kemudian, 1980, Jokowi diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sudjiatmi pun bersyukur, "Saya sudah ndak lulus. Cita-cita saya, anak saya harus lulus perguruan tinggi."

Setelah itu jadi pedangan atau apa pun silakan. "Kalau pedagang sekolahnya tinggi bakal punya kepercayaan diri," ujar sang ibu.

Soal biaya kuliah Jokowi, kedua orang tuanya sanggup membiayai. Namun jika ada hal yang memerlukan biaya lebih, "Saya ke Pakdhé minta tolong."

Tak tergiur fasilitas

Ketika kemudian Jokowi berbisnis tapi terpuruk setelah ditipu orang (1990), sehingga tampak klemprak-klemprek , sang ibu menyemangati, "Kalau kamu gitu terus nambahin sedih Ibu."

Agar Jokowi bisa berusaha lagi, Sudjiatmi turun tangan. Untuk kedua kalinya dia memodali Joko yang belum berjuluk Jokowi, membuka tabungan dan meminjam dari bank. Terkumpul Rp30 juta.

Sebenarnya Sudjiatmi bisa mencari bantuan lain. Suatu kali Kepala Dinas Perindustrian Surakarta, Suryatin menegur perempuan yang sudah dikenalnya itu, kenapa tak bilang bahwa anak lelakinya bikin mebel. Kalau tahu lebih awal, Suryatin akan memberi fasilitas.

Perempuan itu menjelaskan, "Saya bukan model yang minta-minta bantuan, tapi berkeyakinan kalau kerja benar pasti ada yang menolong."