Sutradara Surat dari Praha klarifikasi tuduhan plagiat

4 years ago

Sutradara Surat dari Praha klarifikasi tuduhan plagiat

Kiri ke kanan: penulis skenario Surat dari Praha Irfan Ramli, sutradara Angga Sasongko, dan produser eksekutif Glenn Fredly dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/2/2016).

(C) Indra Rosalia /Beritagar.id

Bertempat di Filosofi Kopi, Jakarta, Senin (1/2/2016), Visinema Pictures melakukan klarifikasi dan pernyataan sikap atas tuduhan plagiarisme dalam pembuatan film Surat dari Praha.

Pekan lalu, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Malang, Yusri Fajar, mengajukan somasi kepada Glenn Fredly, salah satu produser Surat dari Praha. Isi somasi adalah dugaan penjiplakan terhadap bunga rampai cerita pendek karya Yusri yang juga berjudul Surat dari Praha, terbit tahun 2012.

Angga Dwimas Sasongko, sutradara Surat dari Praha, mengatakan bahwa pihaknya belum pernah menerima somasi resmi.

"Klaim soal telah dikirimnya somasi kepada kami oleh Yusri Fajar membuat kami dirugikan karena kami dikesankan sebagai pihak yang tidak mau diajak mediasi dan keras kepala. Padahal, perlu ditegaskan, kami tidak pernah menerima somasi," ujar Angga.

"Kami sangat menyayangkan bahwa tuduhan plagiasi ini dilontarkan dan dipublikasikan sebelum film ini dirilis di bioskop. Tuduhan plagiat ini secara nyata merugikan nama baik kami, karena pemberitaan sepihak yang menggiring opini publik untuk menghakimi kami tanpa legal standing yang kuat."

Pada Agustus 2015, Angga mengaku pernah bertemu dengan Yusri Fajar. "Pertemuan itu bukan untuk minta izin, melainkan untuk klarifikasi, karena di televisi kami diberitakan mengadaptasi cerpen Yusri. Kami merasa punya legal standing kuat untuk proyek tersebut."

Angga dan kuasa hukumnya menganggap kesamaan tema mengenai para eksil politik tahun 1965 di Praha adalah fakta sejarah sehingga tidak bisa diklaim secara terpihak.

Mengenai kesamaan judul pada media seni apa pun, menurut dia, sudah sering terjadi. Ia memberi contoh "Surat dari Praha" (Letter from Prague) juga telah dipakai sebagai judul buku karya Sue Gee pada 1994 dan Raya Czerner Schapiro & Helga Czerner Weinberg pada 1991.

"Judul Surat dari Praha adalah benang merah dari apa yang sudah kami pelajari. Dari cerita mengenai narasumber kami (para eksil di Praha), kesamaan atau benang merahnya adalah surat. Karena mereka pasti menceritakan surat-menyurat mereka dengan teman dan saudara di Indonesia," jelas Angga.

Ihwal kesamaan poster, sutradara Filosofi Kopi (2015) ini mengatakan bahwa kesamaan poster bergambar Charles Bridge dengan sampul buku Rusli sangat wajar, karena jembatan itu memang ikon kota Praha, seperti menara Eiffel di Paris, Big Ben di London, atau Monas di Jakarta.

Penulis skenario Surat dari Praha, Irfan Ramli menyatakan: "Saya tidak pernah membaca cerpen itu (Surat dari Praha karya Yusri Fajar) sampai ada pemberitaan mengenai tuduhan plagiarisme itu. Adapun judul memang betul-betul merepresentasikan isi dari cerita yang kami buat. Proses skenario juga dilakukan saat produksi Cahaya dari Timur (dirilis Juni 2014, red). Saya punya dokumentasinya"

Angga menimpali, "Mendapat bukunya saja sulit sekali. Sampai akhirnya ketemu yang jual di Kaskus."

Glenn Fredly merasa tercemar

Penyanyi Glenn Fredly saat ditemui di Filosofi Kopi, Melawai, Jakarta (1/2/2016).

(C) Indra Rosalia /Beritagar.id

Glenn Fredly mengaku kejadian ini sedikit banyak mencoreng reputasinya, padahal ia tidak terlibat dalam penulisan skenario ataupun pembuatan sinematografi Surat dari Praha.

Penyanyi lagu Januari ini menyatakan, "Kerugian bukan hanya ada pada tercemarnya reputasi saya sebagai produser eksekutif, namun juga teman-teman yang sudah bekerja bersama-sama membuat film ini."

"Saya menyayangkan kegegabahan pihak Yusri Fajar dan kuasa hukumnya dalam mengeluarkan tuduhan secara sepihak. Saya tidak mau publik digiring untuk meyakini opini yang sepihak," jelas Glenn.

Padahal, Glenn mengatakan, ia senang dengan adanya film Surat dari Praha, generasi muda jadi ingin tahu mengenai kejadian tahun 1965.

"Saya senang anak muda generasi kelahiran 1990-an dan 2000-an jadi melek terhadap kejadian tahun 1965 gara-gara film ini," ujar Glenn.

Visinema menuntut Yusri meminta maaf

Langkah selanjutnya, Visinema telah mengirim somasi kepada pihak Yusri Fajar, namun belum direspons yang bersangkutan. Somasi pertama dikirim pada 22 Januari, sementara yang kedua dikirim pada 29 Januari 2016.

Visinema menuntut Yusri menggelar permintaan maaf. "Kami menuntut Yusri melakukan konferensi pers dan meminta maaf, serta menghapus data-data digital di sosial media yang menyebutkan bahwa kami plagiat," ujar Angga.

Pekan lalu Yusri Fajar menyatakan bahwa kesamaan tema dan ide besar film itu sama persis dengan buku yang dibuatnya. "Sekilas, dari tema dan ide besar film, sama persis dengan buku saya," kata Yusri dikutip Republika.

Ia menampik kemungkinan jika kesamaan itu adalah kebetulan. Dalihnya, antologi cerpen itu beredar lebih dulu ketimbang film Surat dari Praha.

"Kami yakin film itu diadopsi dari buku kumpulan cerpen saya, dengan judul dan cerita yang sama. Kami tetap membuka ruang yang lebar untuk berdialog mengenai masalah ini, tapi kalau tidak ada titik temu, kami ambil langkah hukum," tegasnya.