5 Cara Ampuh Jadi Bahagia Menurut Berbagai Riset Ilmiah!
Merdeka.com

4 weeks ago

5 Cara Ampuh Jadi Bahagia Menurut Berbagai Riset Ilmiah!

Merdeka.com - Kebahagiaan sudah lama jadi hal yang sangat 'berharga.' Meski kebahagiaan sifatnya tak kasat mata, para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa kebahagiaan ternyata bersifat ilmiah. Hal ini dikarenakan kebahagiaan seseorang disumbang andil yang besar oleh keberadaan gen.

Mengapa gen punya andil besar dalam kebahagiaan seseorang?

Hal ini dikarenakan seseorang bisa secara alami mengalami masalah depresi dan masalah kecemasan, sedangkan orang lain tidak. Di sini gen adalah pembeda di antara orang-orang tersebut. Namun hal ini sama sekali tidak mutlak. Meski berpengaruh, menurut para ilmuwan, gen hanya menyumbang 50 persen dari apa yang didefinisikan 'kebahagiaan.' Keadaan lingkungan, gaya hidup, perilaku, serta pola pikir menyumbang 50 persen sisanya. Tentu kita bisa mengontrol porsi ini jika kita mengacu pada sains.

Berikut cara menemukan kebahagiaan yang telah dirumuskan oleh para ilmuwan.

Koneksi, menguasai sesuatu, dan kebebasan

ilustrasi bahagia. thepollyannaplan.com

Manusia pada dasarnya memiliki tiga kebutuhan pokok, yakni makan, pakaian, tempat tinggal, serta yang baru-baru ini dianggap penting pula, tidur. Namun para Ilmuwan punya tiga buah syarat lagi untuk menjadi bahagia. Raj Raghunathan, Profesor dari University of Texas mengungkapkannya, seperti yang kami lansir dari Psychology Today.

Pertama adalah koneksi sosial, atau perasaan memiliki terhadap suatu lingkungan sosial. Anda tentu akan bahagia jika Anda tergabung dalam sebuah situasi sosial. Di masyarakat Indonesia, hal ini sudah menjadi budaya, di mana seseorang akan lebih dihargai jika mereka mudah bergaul, supel, dan punya koneksi yang luas. Tentu hal ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mampu melakukannya. Meski demikian, para 'introvert' yang memilih untuk tak bersosialisasi terlalu banyak juga sering dipuji karena memilih untuk tidak berkoneksi, meski sedikit bertentangan dengan norma. Hal ini sudah membuatnya bahagia tanpa harus berkoneksi sana-sini. Namun jangan salah, 'introvert' pun punya sahabat dan keluarga, di mana perasaan memiliki juga tinggi tingkatan kualitasnya.

Kedua adalah menguasai sesuatu. Ketika kita menguasai sesuatu, kita akan merasa lebih baik dan hal ini akan membuat bahagia. Sebagai contoh, jika Anda menguasai public speaking, di mana orang lain berbicara tidak di depan umum saja canggung, tentu hal ini adalah sesuatu yang membuat Anda merasa 'lebih' dari orang lain. Percaya apa yang Anda bisa adalah salah satu kunci kebahagiaan.

Ketiga adalah kebebasan, di mana membuat keputusan sendiri atas apa yang akan kita lakukan, adalah hal yang paling berharga dalam hidup. Tidak 'dikuasai' oleh orang lain akan membuat kita bisa merasa bahagia.

Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Ilustrasi bahagia. ©2015 Merdeka.com/Pixabay/Lazare

Ternyata kebahagiaan tak akan pernah muncul jika motivasi kita salah. Bahkan meski tujuan kita dalam hidup telah tercapai. Menurut sebuah riset yang dipublikasikan di NYTimes, tercapainya tujuan, seperti masuk ke kampus unggulan, atau pindah ke kota baru, hanya mengkontribusikan 40 persen dari kebahagiaan seseorang. Menurut penelitian tersebut juga, kebahagiaan yang dirasakan tersebut hanya akan terasa di saat itu saja, karena dalam riset lanjutan, kebahagiaan tersebut akan menghilang dalam beberapa bulan ke depan.

Oleh karena itu memfokuskan diri dengan apa yang kita nikmati secara alami, adalah jalan terbaik untuk bahagia. Bukan untuk menaruh mimpi dan harapan dengan tinggi agar bisa menjadi superior ketika membandingkan diri dengan orang lain. meski terdengar klise, berfokus kepada proses dan tak terpatok kepada tujuan, ternyata adalah salah satu kunci kebahagiaan.

ADVERTISEMENT

"Ketika Anda tidak ada perasaan butuh membandingkan diri dengan orang lain, Anda akan condong untuk melakukan hal yang Anda sukai tanpa peduli apa yang dipikir dan dikatakan orang lain. Oleh karena itu Anda akan melakukan sesuatu lebih baik," ungkap Raghunathan. Jika Anda baik dalam melakukan sesuatu yang Anda sendiri sukai, kebahagiaan akan muncul dengan sendirinya.

Berpura-puralah bahagia hingga Anda benar-benar bahagia

Ilustrasi bahagia. ©Shutterstock/solarseven

Jika ada yang bilang bahwa bahagia itu pilihan, mungkin hal tersebut cukup masuk akal. Karena sebuah riset dari University of California menunjukkan bahwa sekedar senyum bisa memberi dampak signifikan kepada suasana hati, kepercayaan diri dan perspektif.

Hal ini tentu bisa diaplikasikan ke aktivitas sehari-hari yang kita lakukan. Dalam menjalani hidup tentu ada banyak halangan serta masalah yang terjadi. Mungkin jika kita mengikuti apa kata sains dan mencoba 'berpura-pura' bahagia dengan tersenyum setiap menghadapi masalah, mungkin saja suasana hati akan makin membaik dan kebahagiaan akan datang mengikuti.

Hargailah waktu ketimbang uang

Ilustrasi bahagia. ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Maridav

Yap, lagi-lagi kita harus dihadapkan pada hal klise yang menyebutkan bahwa waktu akan selalu lebih berharga daripada uang. Namun bagaimana lagi, hal tersebut benar adanya. Hal ini dibuktikan oleh studi yang dihelat oleh Ashley Whillans, seorang calon doktor di University of British Columbia di Kanada. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa seseorang yang menghargai waktu akan lebih mampu mempertahankan kebahagiaan ketimbang mereka yang terlalu giat bekerja dalam setiap harinya.

Tentu bekerja untuk mencari pundi-pundi uang memang penting, namun jika hal tersebut bisa menurunkan waktu kebersamaan dengan keluarga, sahabat, atau sesuatu yang nikmati sebagai 'passion,' tentu kata kebahagiaan akan makin jauh dari hidup Anda.

Untuk mengatasinya, Anda harus bisa lebih cermat untuk mengatur waktu dengan selalu menyisipkan waktu untuk bersama keluarga, dan waktu untuk melakukan hobi yang Anda sukai.

Disconnect dari teknologi

Ilustrasi bahagia. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/Kuznetcov_Konstantin

Tak bisa dipungkiri lagi kalau penyebab rumit dan kalutnya hidup seseorang karena teknologi sudah makin canggih dan makin membebani pikiran kita yang hidup di era modern ini. Berbagai pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari saja sudah cukup bikin stress, terlebih lagi kita tak bisa mengabaikan hal-hal negatif yang seringkali muncul di sosial media.

Mengingat sebelumnya manusia selama berabad-abad tak punya teknologi, seharusnya kita juga mampu untuk sedikit lepas dari teknologi yang 'mengekang' kita sekarang.

Menurut sebuah studi yang dihelat oleh The Happiness Institute menjelaskan bahwa log-out dari Facebook selama seminggu dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan, mengurangi stress, dan meningkatkan kemampuan untuk merasa lebih menghargai diri sendiri. Selain itu, budaya 'memamerkan keberhasilan' yang sering dimunculkan di sosial media, adalah salah satu kunci hilangnya kebahagiaan karena kita akan selalu membandingkan diri dengan orang lain. [idc]