Risiko Konsumsi Daging Hewan Potong yang Tercemar Antibiotik
JawaPos.com

4 weeks ago

Risiko Konsumsi Daging Hewan Potong yang Tercemar Antibiotik

JawaPos.com – Penggunaan antibiotik di peternakan dapat mengakibatkan resistensi antibiotik. Antibiotik secara umum digunakan untuk membesarkan dan memelihara hewan ternak. Tapi, ketika antibiotik digunakan pada hewan, akan menghasilkan bakteri yang resisten. Misalnya dalam pencernaannya.

Dokter Hewan Wayan Wiryawan yang juga pengurus dan anggota Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHI), mengatakan secara ilmiah dikatakan bahwa antibiotik menciptakan bakteri resisten pada hewan. Sehingga bakteria ini kemudian dapat mencemari daging saat hewan dipotong, atau di perjalanan.

Misalnya, ketika seseorang mengonsumsi daging ini dalam kondisi kurang matang atau tidak mengolah dagingnya dengan benar maka bisa jatuh sakit. “Contoh umum kuman penyakit yang ditularkan melalui makanan adalah Salmonella, Campylobacter dan E. coli,” jelasnya.

Wayan juga menyatakan, limbah peternakan dapat menyebarkan resistensi antibiotik. Hal itu terjadi, karena kotoran hewan akan mengandung antibiotik. Sebab kebanyakan antibiotik tidak dapat hancur, sehingga sebagian besar keluar lagi dalam kotoran hewan.

Oleh karena itu, baik antibiotik maupun bakteri resisten akan muncul di alam ketika hewan ternak mengeluarkan kotoran. Juga ketika kotoran hewan ini digunakan sebagai pupuk kandang dan tidak diolah dengan benar, bisa membuat tanaman pangan yang dimakan mentah dapat menularkan kuman penyakit (contoh umum adalah Salmonella pada salad, dan E. coli pada kecambah)

“Beberapa kajian mengidentifikasi kaitan antara antibiotik pada makanan, air dan sumber lainnya dengan berkembangnya resistensi antibiotik pada tubuh manusia. Jadi gambaran besarnya, penggunaan antibiotik pada industri peternakanlah yang menjadi penyebab terbesar dalam terbentuknya resistensi antibiotik,” tandasnya.

Sehingga resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) telah dinyatakan sebagai salah satu permasalahan kesehatan paling mengancam populasi dunia. Tanpa upaya pengendalian global, pada 2050 diperkirakan AMR menjadi pembunuh nomor 1 di dunia, dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa.

Salah satunya disebabkan karena penggunaan antibiotik yang tak tepat, yang ditemukan di sektor peternakan dan pertanian. Jika dikonsumsi manusia bisa mempercepat laju resistensi antibiotik.

Tingkat kematian tertinggi akibat AMR diperkirakan terjadi di kawasan Asia (4,7 juta). Saat ini, tiap tahunnya kurang lebih 25 ribu nyawa melayang di Eropa, 23 ribu di Amerika Serikat, 38 ribu di Thailand, dan 58 ribu bayi di India. Semua itu akibat terinfeksi bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik.

“Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor peternakan, pertanian, perikanan dan kesehatan masyarakat mempercepat laju resistensi bakteri yang telah menjadi ancaman serius terhadap keamanan global, ketahanan pangan, serta menjadi tantangan pembangunan berkelanjutan dengan dampak yang signifikan terhadap stabihtas ekonomi,” kata Pendiri dan Dewan Penasihat Yayasan Orang Tua Peduli, Purnamawati Sujud dalam konferensi pers, Kamis (14/11).

Untuk itu, peternak harus bisa menerapkan praktik-praktik peternakan yang baik (good farming practices), yang berfokus pada animal welfare . Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti 3 zona serta dalam menjaga kesehatan hewan ternak tidak selalu tergantung menggunakan antibiotik.

“Antibiotik diperlukan hanya untuk pengobatan bila hewan ternak mengalami sakit, karena infeksi bakterial,” ujarnya.