'Horse Planet Police Department' Kembali dari Hiatus Dengan Rock yang Membuatmu Bergoyang
VICE Indonesia

4 weeks ago

'Horse Planet Police Department' Kembali dari Hiatus Dengan Rock yang Membuatmu Bergoyang

Nama band ini segera mengisi slot daftar penyebutan band tersulit di kancah independen lokal. Horse Planet Police Department , band asal kota hujan, Bogor, ini biasa disingkat jadi HPPD saja agar lidah kita tidak belibet sendiri. Tapi ada benarnya juga, terkadang nama band yang rumit selalu jago dalam mencuri perhatian lebih ke pendengarnya yang baru.

Setelah hiatus hampir dua tahun, pada 27 September 2019 band ini tanpa aba-aba melepas single terbaru bertajuk ‘Feel My Fire’ sebagai penanda HPPD kembali hadir mengekspansi kancah musik manapun.

HPPD hadir kembali dengan susunan personil baru, yakni formasi trio, Ardy, Aliefta, dan Jajung. Perubahan pun sampai ke genre yang mereka mainkan. EP pertama mereka yang meramaikan blantika musik awal 2017 dengan mengusung aliran psychedelic, kini materi HPPD dirombak jadi groove electronic . Tapi semua perubahan itu bisa dibilang sangat alamiah. HPPD tetaplah salah satu band independen yang menyenangkan (sekaligus menyebalkan karena jarang kelihatan).

Omong-omong, kenapa harus groove electronic? " Term groove itu sendiri karena ingin membuat lagu yang sedikit dancey, " kata Ardy pada VICE.

Single ‘Feel My Fire’ menjadi langkah awal menuju rilisnya album penuh berjudul ‘Enter Music’ yang direncanakan beredar awal 2020.

VICE berkesempatan ngobrol bareng bersama Horse Planet Police Department membahas alasan pemilihan nama band, perombakan yang dilakukan terhadap musiknya, hingga kesiapan mereka setelah hilang selama 2 tahun dan langsung akan meramaikan panggung festival musik alternatif Ornaments yang digarap oleh Studiorama pada 15 November 2019.

VICE: Halo dulu alasan memilih nama band ‘Horse Planet Police Department’ apa sih? Enggak merasa kepanjangan?

Ardy : Berawal dari keinginan untuk membuat nama yang bisa disingkat menjadi HPPD. ‘Horse Planet Police Department’ lah yang pertama popped out di kepala gue. Dengan nama yang panjang, gue jadi sadar siapa yang bener-bener baca dan siapa yang merasa terganggu dengan nama itu. Terus terang nama kita sering ditulis dengan penulisan yang salah. Well it’s a name, no matter how long, if somebody needs to write a name, he/she has to write it down correctly.

HPPD lahir saat kalian sedang ngapain? Ini proyek pertama kalian?

Berawal dari sebuah solo project, buat album kompilasi di kampus gue. Itu tuh tahun 2013. Gue bikin 4 lagu demo materi yang akhirnya jadi debut EP kami, dan langsung menamakan proyek ini HPPD. Unfortunately lagunya di- reject semua.

Jadi gue simpen aja materinya sampai gue kenalan dengan member pertama band ini (Tope). Kami lagi nyantai di sebuah bar dan gue kasih denger lagu-lagu reject -an itu, dia tertarik dengan lagu-lagunya dan Voila! Jadilah HPPD sebuah band. HPPD bukan band pertama. Kami semua sudah pernah nge-band sebelumnya.

Konsep a wal HPPD kan psychedelic , lalu jadi groove electronic itu gimana ceritanya?

Dari awal gue bikin materi untuk kompilasi gue sudah mengkonsepkan lagu yang bernuansa electronic. Karena memang dibuat in the box aja di laptop. Basically most of us are electronic musician today . Term groove itu sendiri karena ingin membuat lagu yang sedikit dancey, meskipun dibawakan dengan format band rock. Not necessarily a straightforward rock n' roll band, and definitely not an electronic dance music.

Selama hiatus dua tahun HPPD kemana saja? Ngapain hilang segala?

Enggak kemana-mana sih. Di rumah, di kantor, berobat, mencari drummer, mencari ide, melupakan band sejenak, bikin project solo yang absurd, you might like this one!

Pernah ada yang bilang musik kalian itu semacam kawin silangnya Foster the People sama Daft Punk?

Kebetulan Foster the People dan Daft Punk adalah salah satu influens. Tapi terus terang masih banyak influence-influence lain yang belum teridentifikasi para pendengar, so we gotta say we are much much more than a crossbreed between Foster the People and Daft Punk.

Proses apa saja yang sudah kalian siapin untuk come back HPPD?

Menyempurnakan materi-materi yang masih berantakan, mematangkan produksi live. Formasi HPPD pasca rilis lagu ‘Feel My Fire’ adalah formasi yang cukup berbeda, dengan personil, instrument dan player yang beda juga, jadi kami harus latihan dan menyesuaikan lagi dari nol. Enggak nol juga sih hahaha, nol koma lima lah.

Butuh waktu berapa lama untuk proses pembuatan lagu ‘Feel My Fire’ ?

Enam tahun. ‘Feel My Fire’ sudah dibuat dari akhir 2013. Tapi ga sempet dirilis karena beda banget dari materi EP dan jalan ceritanya juga beda. Daripada dibuang, lebih baik diobrak abrik lalu dirilis. Ada puluhan revisi lagu ini dengan berbagai macam genre dan referensi.

Serewel apa sih kalian kalau soal visual musik? Secara kalian kan anak-anak creative company nih.

Ya dibilang bisa sangat detail, karena musik dan gambar saling berhubungan satu sama lain.

Benar dalam dekat HPPD mau rilis full album?

Benar. Tungguin ya!

Apa saja yang sudah disiapkan untuk panggung di ‘Ornaments’ nanti?

Mental. Udah lama banget nih enggak manggung.

Kalau boleh milih, HPPD mau sepanggung sama siapa sebelum ‘tiba-tiba hilang’ lagi?

Enggak mau sepanggung sama siapa-siapa. Karena enggak mau ‘tiba-tiba hilang’ lagi. Hahaha.....

Siapa musisi/band lokal panutan kalian? Kenapa dia? Jelaskan!

Guruh Gypsy, Gabber Modus Operandi, The Trees & the Wild, Dream Coterie, Iwan Fals, Jason Ranti. Karena, mereka semua revolusioner pada porsinya masing-masing. Ada juga .Feast buat attitude dan fenomenanya. Sunmantra buat experience live performance-nya. Can’t pick one.

Artikel ini adalah kolaborasi VICE dan Studiorama untuk publikasi konser Ornaments yang digelar di Kuningan City Ballroom, Jakarta Selatan, pada 15 November 2019. Tiket bisa didapatkan di sini.