PBB: 'Pesawat tempur asing' dicurigai lancarkan serangan mematikan di pusat penahanan migran Libia
BBC Indonesia

1 week ago

PBB: 'Pesawat tempur asing' dicurigai lancarkan serangan mematikan di pusat penahanan migran Libia

Hak atas foto AFP

By

Gempuran rudal mematikan di pusat penahanan migran Libia dilancarkan oleh sebuah pesawat tempur negara asing, menurut dokumen rahasia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dilihat BBC News Arabic.

Sejauh ini tidak ada negara yang disebutkan dalam dokumen tersebut. Namun, menurut sebuah sumber yang mengetahui jalannya penyelidikan, investigasi berfokus pada Uni Emirat Arab (UEA).

UEA tidak berkomentar ketika BBC meminta respons.

Serangan pada Juli lalu yang menewaskan 53 migran dan melukai 130 lainnya, disebut seorang pejabat PBB sebagai potensi kejahatan perang

Sebagian besar korban tewas di pusat penahanan migran Tajoura, di sebelah timur Tripoli, diyakini berasal dari Afrika sub-Sahara yang berupaya menuju Eropa dari Libia.

Hak atas foto Reuters

By

Jumlah korban tewas dalam kejadian itu adalah yang tertinggi yang dilaporkan ke publik sejak Tentara Nasional Libia (LNA) memulai serangan baru pada April lalu untuk menggulingkan Pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA) sokongan PBB di Tripoli.

"Serangan ini mungkin, bergantung pada kondisi yang spesifik, tergolong kejahatan perang," kata Komisioner Tinggi PBB untuk HAM, Michelle Bachelet, setelah kejadian.

Misi Khusus PBB di Libia mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah mengirimkan koordinat lokasi pusat penahanan migran kepada kedua belah kubu agar tempat itu tidak kena sasaran konflik.

Pada Juli, GNA mengatakan serangan tersebut dilakukan pesawat tempur dari UEA. LNA, di bawah komando Jenderal Khalifa Haftar, semula mengklaim telah mengebom target yang sah namun belakangan membantah terlibat.

Sebuah panel yang bekerja untuk Dewan Keamanan PBB selama beberapa bulan terakhir berupaya menentukan pihak mana yang bertanggung jawab dalam serangan tersebut.

BBC News Arabic melihat sebuah laporan rahasia yang akan dipresentasikan di hadapan DK PBB, Rabu (06/11).

Laporan itu merujuk bukti dari sumber yang dirahasiakan bahwa pesawat "Mirage 2000-9 dalam jumlah yang tidak diketahui" beroperasi dari dua pangkalan udara di Libia.

Hak atas foto Air Team Images

By

UEA dan Mesir, yang mendukung LNA, memiliki pesawat tempur Mirage dalam jumlah banyak.

Juru bicara militer Mesir mengatakan pihaknya tidak mau mengomentari laporan itu sebelum dipublikasikan.

Laporan PBB menyebut pesawat-pesawat Mirage menggunakan dua pangkalan udara, yakni Jufra dan al-Khadim.

Pada 2017, PBB mengatakan UEA telah mendirikan sebuah pangkalan udara di Al-Khadim dan menyediakan bantuan angkatan udara ke pasukan Jenderal Haftar.

Hak atas foto AFP

By

Laporan rahasia itu menyimpulkan bahwa "amat mungkin" serangan udara ke tempat penahanan migran dilakukan menggunakan rudal yang dipandu secara presisi "yang dioperasikan negara anggota (PBB) guna mendukung secara langsung HAF (Pasukan Bersenjata Haftar)".

Laporan tersebut tidak menampilkan nama negara lantaran bukti-bukti masih dikumpulkan.

Walau berulang kali dihubungi, UEA dan LNA tidak merespons permintaan wawancara.

"Jika ada bukti konkret intervensi militer secara langsung oleh negara luar, maka itu sama sekali tidak bisa diterima dan perlu diselidiki hingga taraf paling senior," kata mantan Duta Besar Inggris untuk Libia, Peter Millet.

Sejak 2011, Libia mengalami embargo senjata. Kemudian pada Agustus 2019, UEA menandatangani komitmen untuk mematuhi embargo tersebut bersama Inggris, AS, Prancis, dan Italia.