Kasus penembakan mahasiswa Kendari, seorang polisi ditetapkan sebagai tersangka
BBC Indonesia

1 week ago

Kasus penembakan mahasiswa Kendari, seorang polisi ditetapkan sebagai tersangka

Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO

By

Salah-seorang dari enam anggota polisi yang dikenai sanksi disiplin terkait tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sultra, dalam unjuk rasa akhir September lalu, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Brigadir AM telah ditetapkan sebagai tersangka dan akan menjalani proses pidana, kata seorang pejabat kepolisian.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (07/10), Kasubdit V Jatanwil Ditipidum Bareskrim Polri, Kombes Patoppoi mengatakan hal tersebut disimpulkan kepolisian setelah melakukan uji balistik dengan menganalisa tiga proyektil peluru dan enam selongsong yang ditemukan di sekitar tempat kejadian penembakan.

"Ditemukan keidentikan dari enam senjata, satu senjata identik dengan dua proyektil dan dua selongsong... identik dengan senjata api jenis HS yang diduga digunakan oleh Brigadir AM," ujar Patoppoi, seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Callistasia Wijaya, dari Mabes Polri.

Dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan itu, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO), Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi, meninggal dunia.

Sebelumnya keduanya dikabarkan mati karena luka tembak. Namun, polisi mengatakan hanya Randi saja yang mati karena luka tembak, sementara Yusuf meninggal akibat pukulan benda tumpul.

Brigadir AM dikenakan pasal 351 ayat 3 KUHP, tentang penganiyaan yang menyebabkan kematian, dan atau pasal 359 KUHP, mengenai kealpaan yang menyebabkan orang meninggal, subsider pasal 360 KUHP.

Patoppoi mengatakan AM akan segera ditahan dan berkasnya akan dilimpahkan ke kejaksaan.

Ketika ditanya mengenai pengakuan tersangka dalam investigasi, Brigjen Dedi Prasetyo Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri mengatakan, mereka mengutamakan alat-alat bukti yang ditemukan.

"Proses pembuktian dan alat bukti jauh lebih diutamakan. Ngaku atau nggak , itu hak konstitusional tersangka, tapi dari bukti yang dimiliki, keterangan ahli, saksi, petunjuk, sudah cukup kuat menyimpulkan Brigadir AM sebagai tersangka," kata Dedi.

Sebelumnya, Polda Sulawesi Tenggara telah menjatuhkan serangkaian sanksi disiplin terhadap enam polisi yang "menyalahgunakan senjata api" dalam demonstrasi yang menewaskan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) pada 26 September 2019.

Keputusan ini terjadi di tengah unjuk rasa para mahasiswa yang menuntut jawaban atas kematian dua orang rekan mereka.

Selain AKP Diki Kurniawan, lima orang anggota polisi lainnya yang diadili adalah Bripka Muhammad Arifuddin, Bripka Muhammad Iqbal, Brigadir Abdul Malik, Briptu Hendrawan, serta Bripda Fatur Rochim Saputro.

Dalam persidangan itu, semuanya divonis tidak menaati perintah pimpinan, yakni membawa dan menyalahgunakan senjata api pada saat melaksanakan tugas pengamanan unjuk rasa mahasiswa di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara pada Kamis, 26 September 2019.

Sejak awal pemberian sanksi disiplin ini diprotes pegiat mahasiswa dan pegiat HAM, yang dianggap tidak sepadan dengan akibat kematian dua orang rekan mereka.

Dalam aksi unjuk rasa ribuan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kendari, Kamis, 26 September 2019, telah menyebabkan dua mahasiswa meninggal dunia.

Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan Kamis (26/09).

Adapun Muhammad Yusuf Kardawi (19) tewas pada Jmuat (27/09) setelah mengalami luka tembak peluru tajam.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menduga Muhammad Yusuf Kardawi (19) juga tewas akibat ditembak di depan gedung Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Tenggara, 26 September 2019.

"Diduga penembakan pertama terjadi terhadap Yusuf di pintu samping Disnakertrans, disusul dengan penembakan Randi," kata Koordinator Badan Pekerja Kontras, Yati Andriyani, di kantornya, Jakarta, Senin (14/10).

Investigasi KontraS dilakukan dengan metode wawancara saksi mata di lapangan. KontraS juga melakukan komunikasi dengan lembaga Ombudsman dan tim kuasa hukum korban serta kroscek dengan media di lokasi kejadian.