Berdasar Arsip Sejarah, Tiongkok Ternyata Pernah Kembangkan UFO
VICE Indonesia

4 weeks ago

Berdasar Arsip Sejarah, Tiongkok Ternyata Pernah Kembangkan UFO

Dua penemu asal Rumania belum lama mengklaim telah merakit prototipe piring terbang hipersonik pertama yang bisa berfungsi dengan baik. Pada 9 Oktober, situs penerbangan militer Alert-5 membuat kehebohan di kalangan pecinta UFO dan penerbangan dengan membagikan beberapa gambar pesawat siluman yang dijuluki “UFO Cina.” Dua hari kemudian, media nasional Cina Global Times melaporkan helikopter penyerang tersebut diberi julukan “Super Great White Shark.”

Digambarkan sebagai “pesawat ala sci-fi” oleh media Cina, desainer mengumumkan “kemampuan menyamar dan kecepatan tinggi Super Great White Shark menjadikan senjatanya unggul di medan perang.” Namun, insinyur ruang angkasa dan sejarawan penerbangan mengutarakan desainnya sudah pernah ada sebelumnya dan kemungkinan tidak bisa terbang.

Diperkenalkan dalam China Helicopter Exposition pekan lalu di Tianjin, papan informasi menggambarkan “UFO Cina” sebagai “helikopter bersenjata” yang menampilkan “konfigurasi helikopter sayap campuran berkecepatan tinggi yang dirancang untuk informasi digital masa depan di medan perang.”

Desainer lebih lanjut menjelaskan pesawat, yang juga dijuluki “Super Jaws”, menggunakan “teknologi desain helikopter yang sangat baik dan matang” dan secara khusus setara dengan AH-64 Apache dan CH-53 Sea Stallion AS, serta Ka-52 dan Mi-26 Rusia. Tidak diketahui bagaimana desain “The Great White Shark” bisa setara dengan helikopter rotorwing yang disebutkan. Kedua modelnya merupakan helikopter penyerang, sementara sisanya pesawat angkut berat.

Skema pelengkap menjelaskan “Super Great White Shark” mampu terbang dengan kecepatan 400 mph dan ketinggian maksimum hampir 20.000 kaki. Prototipe tersebut memiliki “dua mesin turbojet yang dapat memberikan dorongan horizontal besar untuk gerakan kecepatan tinggi” dan “badan pesawat dilapisi bahan siluman,” klaim media Cina.

Meski desain pesawatnya dikatakan menggunakan “sayap campuran internasional” untuk membuat “helikopter berkecepatan tinggi baru”, Super Great White Shark tak jauh berbeda dari desain pesawat ducted-fan yang diuji coba dan ditelantarkan pasukan militer AS sejak 60 tahun lalu.

Diagram skematik pesawat

Menggunakan konsep umum yang sama untuk mencapai gaya angkat dan dorong seperti pesawat rotor konvensional, kendaraan ducted-fan memiliki baling-baling di dalam kerangka yang lebih besar. Jadi, baling-balingnya tidak dipasang di luar. Sepanjang akhir 1950-an dan awal 1960-an, Angkatan Darat AS dan NASA menguji coba sejumlah pesawat dengan sistem pendorong berbasis baling-baling. Hasil eksperimen menunjukkan pesawat ducted-fan sama sekali tak menguntungkan jika dibandingkan dengan pesawat dan helikopter konvensional.

“Super Great White Shark” memiliki kemiripan mencolok dengan pesawat eksperimen Angkatan Udara dan Darat AS yang berbentuk seperti piring terbang dan Avro Canada VZ-9 Avrocar. Secara teknis tidak bergantung pada propulsi ducted-fan, Avrocar menggunakan efek Coanda dengan tiga knalpot peniup jet melalui tepi melingkar pesawat untuk mencapai gaya angkat dan dorong. Ketika visi awal pesawat tempur Mach 3.5 “Y-2” milik Angkatan Udara AS dianggap tidak realistis.

Angkatan Darat AS membayangkan versi tempered desain piring terbang — Avrocar — sebagai pengganti jip dan helikopter. Setelah tiga tahun dikembangkan, program Avrocar dihentikan karena pesawat mirip UFO ini tidak dapat terbang melebihi kecepatan 35 mph dan ketinggian 3 kaki.

Avrocar. Gambar: Museum Nasional Angkatan Udara AS

Desainer Rumania mengaku pendekatan baru mereka dalam merancang All Directions Flying Object atau ADIFO menggunakan jet-propulsion vektor hanyalah prototipe, dan saat ini lebih unggul sedikit dari drone yang dikendalikan secara remote .

Meski “Super Great White Shark” diakui sebagai prototipe, Cina belum menjelaskan bagaimana pesawat siluman ini takkan bernasib sama seperti pesawat-pesawat lain yang gagal.

Meskipun begitu, pengembang menyebutkan “UFO Cina” akan terbang perdana pada Airshow China 2020 di Zhuhai, Provinsi Guangdong, Cina Selatan.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard