Potret Busana Anak-Anak Muda Hong Kong yang Tak Lelah Berdemonstrasi Melawan Beijing
VICE Indonesia

3 weeks ago

Potret Busana Anak-Anak Muda Hong Kong yang Tak Lelah Berdemonstrasi Melawan Beijing

Unjuk rasa anak muda di Hong Kong menolak campur tangan Tiongkok terhadap kehidupan warga tak kunjung mereda sejak Juni tahun ini. Seorang fotografer lokal, bernama Eric sejak pecah aksi pertama sudah mulai mendokumentasikan seluk beluk demonstran. Eric tidak banyak menyorot jalannya aksi, melainkan busana yang mereka kenakan.

Tentu ini bukan sekadar seri foto mengenai selera fashion, melainkan upaya memahami taktik anak-anak muda itu agar selalu aman menghadapi bermacam represi aparat. Berikut catatan Eric bersama para demonstran tentang pilihan baju-baju mereka dalam berunjuk rasa:

Di Hong Kong sekitar dua juta orang rutin selama beberapa bulan ini rutin berunjuk rasa demi mempertahankan kebebasan yang mereka miliki. Tapi kebebasan macam apa yang sebenarnya sedang mereka kejar? Kenapa warga menolak kemungkinan Hong Kong diperintah langsung oleh Beijing —termasuk dalam hal pemilihan gubernur hingga pembuatan aturan hukumnya?

Kebebasan memang kata yang maknanya sangat luas. Ada berbagai konsep kebebasan berbeda-beda sedang kita bicarakan sekaligus. Untuk kasus ketidakpuasan warga Hong Kong, kita sedang membicarakan tiga jenis secara spesifik: kebebasan politik, kebebasan beraktivitas, dan kebebasan mencari penghidupan yang layak.

Mengenai kebebasan politik, yang diinginkan demonstran adalah lepas dari sistem Tiongkok yang amat ketat. Termasuk di dalamnya kebebasan beragama dan memiliki pandangan berbeda dari pemerintah. Itulah kenapa perjuangan anak-anak muda di Hong Kong terkait dengan keinginan mereka menjalankan demokrasi yang konsekuen di tanah kelahirannya. Jangan ada lagi pemimpin pesanan pemerintah pusat. Warga Hong Kong harus bebas memilih pemimpinnya sendiri.

Adapun kebebasan beraktivitas adalah tuntutan kedua yang diperjuangkan anak-anak muda—karena terkait hajat hidup orang banyak. Kini, di Hong Kong, sangat sulit berserikat dan berkumpul. Berbagai produk hukum yang dihasilkan parlemen Hong Kong justru bertentangan dengan aspirasi anak muda.

Berdasarkan apa yang mereka rasakan, berbagai undang-undang yang muncul makin membatasi ruang gerak warga, termasuk ada jenis pekerjaan yang dilarang dan ancaman hukuman yang membuat orang tidak berani berbisnis di bidang tertentu . Hukum macam itu tentu bertentangan dengan keinginan warga untuk bebas beraktivitas sehari-hari.

Aspek ketiga adalah kebebasan untuk bisa hidup secara layak. Anak muda Hong Kong percaya negara tidak berhak mengatur apa yang boleh ataupun tak boleh dilakukan seorang individu. Mereka ingin negara berhenti ikut campur terhadap pilihan manusia yang sudah dewasa.

Tiga aspek kebebasan itulah yang sedang gigih diperjuangkan anak-anak muda. Busana mereka menggambarkan perjuangan itu. Mereka ingin kebebasan individu tetap terjamin. Karenanya, banyak dari demonstran yang kufoto mengenakan masker. Aparat Hong Kong, yang diperintahkan Beijing, berusaha menangkap demonstran yang terlihat wajahnya oleh CCTV.

Mereka juga mengenakan pakaian seringan mungkin, supaya bisa lincah bergerak ke berbagai titik, mengingat polisi mulai rutin menggunakan taktik kekerasan untuk membubarkan demonstran, termasuk dengan siraman water cannon yang diberi cat serta gas air mata. Masker anti gas juga menjadi salah satu busana favorit.

Anak-anak muda itu tidak sedang berusaha menumbangkan sistem pemerintahannya sendiri. Mereka hanya menuntut kebebasan. Justru, yang tidak puas pada kebebasan adalah Partai Komunis Cina. Partai itulah yang ngotot hendak menyeragamkan semua wilayah Tiongkok, termasuk Hong Kong, agar corak pemerintahannya senada dengan selera Beijing. Keputusan itu merenggut kebebasan yang didambakan anak muda Hong Kong.

Rakyat Hong Kong tak ingin lagi diatur-atur secara berlebihan oleh negara. Mereka juga ingin punya hak menentukan nasibnya sendiri untuk berbagai urusan.

Para demonstran itu melindungi diri dengan perangkat seadanya. Mereka menggunakan payung, bolpoin laser murah, botol air minum, hingga handuk yang bisa didapat di pasar. Nyatanya, Beijing menganggap mereka hendak menumbangkan rezim dengan peralatan macam itu. Mereka mengerahkan aparat bersenjata lengkap.

Di hadapan kekuatan militer dan polisi Tiongkok itu, anak-anak muda hanya bermodalkan tekad. Mereka tidak gentar menggelar demonstrasi berbulan-bulan karena tekad mereka sudah bulat: kemerdekaan harus direbut, tidak mungkin diberikan begitu saja. Anak-anak muda itu, dengan pilihan busananya, adalah simbol perjuangan manusia yang mendamba kemerdekaan hakiki. - Eric, fotografer untuk artikel ini

Artikel ini pertama kali tayang di i-D Jepang.