Sejak 2016, Pasukan Turki Sudah 3 Kali Menggempur Kurdi di Suriah
Kompas.com

1 week ago

Sejak 2016, Pasukan Turki Sudah 3 Kali Menggempur Kurdi di Suriah

|

QAMISHLI, KOMPAS.com - Pada Rabu waktu setempat (9/10/2019), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengumumkan rencana serangan ke wilayah Kurdi di utara Suriah dimulai.

Berkode Operation Peace Spring, tentara Ankara bakal mendapat bantuan dari kelompok pemberontak Pasukan Nasional Suriah (SNA).

"Misi kami adalah mencegah terbentuknya koridor teror di seantero perbatasan selatan kami, dan membawa perdamaian di area," tegas Erdogan.

Ini merupakan kali ketiga Turki melakukan serangan terhadap Kurdi di Suriah sejak 2016. Mereka menargetkan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Turki menuding YPG berafiliasi dengan Partai Rakyat Kurdistan (PKK), organisasi yang mereka pandang sebagai teroris karena berhubungan dengan pemberontakan 1984.

Dilansir dari berbagai sumber, selain Operation Peace Spring, merupakan dua operasi militer yang dilancarkan Turki kepada Kurdi Suriah.

Operasi militer itu pertama kali diluncurkan pada 24 Agustus 2016, dan berlangsung selama tujuh bulan hingga 29 Maret 2017 lalu.

Dalam pidatonya saat itu, Erdogan menyatakan mereka menargetkan baik kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) maupun YPG.

"Mereka adalah kelompok teror yang mengancam negara kami di utara Suriah," kata Erdogan. Sasarannya adalah Mabij, kota di bawah kendali Rojava.

Persiapan pengerahan serangan dilakukan selama setahun, dengan mengerahkan militer organik Turki dan pemberontak Pasukan Pembebasan Suriah (FSA).

Kemudian pada 29 Maret 2017, militer Turki mengumumkan berakhirnya Operasi Euphrates Shield dengan hasil yang "gilang-gemilang".

|

Serangan itu menimbulkan reaksi dunia. Perancis melalui Presiden Francois Hollande menyebut serangan Turki atas ISIS bisa dibenarkan.

Tetapi dia mengkritik serangan terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF), organisasi paramiliter dengan YPG sebagai tulang punggungnya.

Amerika Serikat melalui Wakil Presiden Joe Biden awalnya memperingatkan YPG bisa kehilangan dukungan jika tidak "menyeberang" ke timur Eufrat.

Namun Komandan Komando Sentral saat itu, Joseph Votel, menyatakan bahwa Washington bakal memberikan dukungan kepada Kurdi Suriah.

Pada 20 Januari 2018, Erdogan mencanangkan serangan yang menyasar wilayah Kurdi Suriah di Afrin. Serangan itu diawali dengan pengeboman jet tempur Turki.

Penyerangan tersebut sempat membuat pemerintah kotra Afrin mengumumkan mobilisasi massal demi melawan operasi militer Ankara.

Salah satunya adalah anak muda bernama Samaa. Dia rela meninggalkan kuliahnya di jurusan Jurnalistik Universitas Afrin Januari lalu demi bergabung dengan paramiliter.

Dari ajakan tersebut, pemerintah Afrin mengklaim telah menerima ratusan permohonan sukarelawan. Sebagian besar ditaruh di garis depan.

Antara 395 hingga 510 warga sipil tewas sejak serangan dimulai hingga dinyatakan berakhir dua bulan berselang, atau 24 Maret 2018.

Selain itu, diberitakan juga bahwa Erdogan mengancam siapa pun yang menentang operasi militer pemerintah bakal menerima konsekuensi berat.

Operasi tersebut berakhir dengan pasukan Turki dan kelompok pemberontak merebut 282 kota dan desa yang berada di Distrik Afrin.

Pada 6 Oktober, Pemerintah AS mengumumkan mereka bakal menarik 50-100 "kontraktor khusus" yang ditempatkan di wilayah utara Suriah .

Keputusan itu dianggap sebagai lampu hijau dari pemerintahan Presiden Donald Trump supaya Turki menggempur wilayah SDF dan Rojava.

Menurut juru bicara pemerintah Turki, maksud dari serangan mereka dalah "membenahi demografi yang berada di utara Suriah".

Jet tempur dan meriam howitzer Turki diarahkan ke kota Ras al-Ain, Tal Abyad, dan membuat ribuan warga setempat melarikan diri.

Buntut dari serangan itu, Trump mengancam bakal "menyapu" ekonomi Ankara jika melakukan kebijakan yang sudah dipandang tidak manusiawi.

Selain itu, negara besar seperti China dan Rusia menyerukan supaya Turki menghormati kedaulatan Suriah, dan menempuh jalan dialog.