Berbagai 'kebiasaan ganjil' orang Barat menggunakan toilet
BBC Indonesia

4 days ago

Berbagai 'kebiasaan ganjil' orang Barat menggunakan toilet

Hak atas foto BBC/Getty Images

Banyak orang Barat menggunakan tisu toilet dan menggunakan toilet duduk. Tapi di sebagian besar bagian dunia lain, kebiasaan ini dilihat aneh dan mungkin kurang higienis.

"Sebagai orang Arab kami harus memastikan bahwa kami membawa tiga hal ketika kita berkemas: paspor, banyak uang tunai, dan bidet (tempat buang air kecil bagi wanita yang dilengkapi dengan alat pembersih) portabel," ujar komedian Mesir, Bassem Youssef, dalam debutnya di Inggris pada Juni.

Dia melambai-lambaikan selang semprot portabel, juga dikenal sebagai shattaf atau "bum gun".

"Saya tidak mengerti: kalian adalah salah satu negara paling maju di dunia. Tetapi terkait urusan 'ke belakang', Anda benar ada di belakang."

Banyak orang akan setuju dengan Youssef.

Di banyak negara Barat, orang-orang lebih gemar menggunakan tisu - dibandingkan bercebok dengan air - suatu kebiasaan yang menjadi sumber kebingungan di seluruh dunia.

Hak atas foto Getty Images

By

Air membersihkan lebih baik daripada kertas.

Bayangkan saja jika Anda tengah mencoba menghilangkan puding cokelat dari kulit Anda hanya dengan tisu.

Sementara tisu toilet mungkin tidak sekeras potongan keramik (digunakan oleh orang Yunani kuno) atau tongkol jagung (digunakan oleh orang Amerika kolonial). Kita semua sepakat bahwa air tidak kasar dibandingkan dengan lapisan tisu yang paling halus.

Masyarakat di berbagai negara mengakhiri 'kunjungan' mereka ke toilet dengan air. Dan itu tidak hanya berlaku bagi dunia non-Barat.

Hak atas foto Getty Images

By

Orang Prancis contohnya. Bahkan kata bidet berasal dari bahasa Prancis. Meskipun perangkat itu sudah jarang ditemukan di Prancis, bidet tetap digunakan di Italia, Argentina, dan banyak tempat lainnya.

Sementara itu, semprotan air di toilet umum ditemukan di Finlandia.

Namun, banyak negara-negara Barat bergantung pada tisu toilet - termasuk Inggris dan AS.

Dan dibandingkan dengan tempat lain di dunia, kedua negara ini memiliki pengaruh terbesar pada budaya kamar mandi modern, catat sejarawan arsitektur Barbara Penner dalam bukunya Bathroom .

Bahkan, tren kamar mandi Anglo-Amerika menjadi begitu luas sehingga, pada 1920-an, dijuluki sebagai "imperialisme sanitasi".

Hak atas foto BBC/GETTY

By

Meski begitu, tren itu tidak menyebar ke banyak negara lain.

Air lebih disukai, misalnya, di sejumlah negara mayoritas Muslim, karena ajaran Islam mencakup penggunaan air untuk pembersihan. (Direktorat Urusan Agama Turki mengeluarkan fatwa tahun 2015 yang menetapkan bahwa umat Islam dapat menggunakan kertas toilet jika air tidak tersedia.)

Dan toilet modern Jepang yang terkenal, menawarkan opsi membilas dan pengeringan.

Satu orang yang tertarik dengan debat mengenai air atau kertas tisu adalah Zul Othman, seorang petugas proyek untuk pemerintah Australia yang meneliti budaya dan sejarah toilet.

Hak atas foto Getty Images

By

Seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Othman, beberapa Muslim Australia telah beradaptasi dengan kamar mandi gaya Barat dengan menggunakan kertas toilet dan kemudian mandi, mengisi wadah air, atau memasang semprotan air di sebelah toilet mereka.

Ini juga terjadi pada orang-orang dari latar belakang agama non-Islam.

Astha Garg, seorang ilmuwan data dari Navi, Mumbai yang telah bekerja di daerah Teluk San Francisco selama dua tahun terakhir, mengatakan dia terus mencari bath mug untuk toiletnya.

(Bagi yang belum tahu, bath mug menyerupai kendi pengukur plastik dengan pegangan dan cerat untuk menuangkan air.) Akhirnya Astha Garg harus pergi ke toko milik India.

"Beberapa orang India memang beradaptasi dengan kertas toilet, tetapi banyak dari kami yang lebih memilih membilas dengan air jika memungkinkan," komentarnya.

"Setiap kali mengunjungi seorang teman India di AS, saya hampir selalu dapat mendapati mereka memiliki wadah air untuk membilas."

Othman telah bagaimana orang Barat berkukuh menggunakan kertas untuk bercebok.

Salah satu teman sekelasnya di Sheffield, Inggris kehabisan kertas toilet dan akhirnya menggunakan uang kertas £20 (Rp346 ribu) untuk bercebok.

Hak atas foto AFP/Getty Images

By

Sementara itu, keluarga penyiar dan gitaris metal, Kaiser Kuo, telah mengadopsi solusi hybrid.

Tiga tahun lalu mereka pindah dari Beijing ke AS, di mana, seperti banyak pendatang baru, mereka mempertahankan beberapa kebiasaan Cina dan mengambil beberapa kebiasaan Amerika.

Kuo terkejut melihat seberapa banyak gulungan tisu toilet yang digunakan anak-anaknya, sesuai dengan status Amerika sebagai konsumen kertas toilet terbanyak di dunia.

Menurut Garg kertas toilet membingungkan.

"Tisu itu akhirnya akan dilemparkan ke dalam mangkuk toilet," katanya. Selain biaya finansial dan lingkungan, "tisu itu akan membuat toilet tersumbat. Saya melihat setiap satu dari empat toilet memiliki masalah pipa ledeng".

Hak atas foto Getty Images

By

Kertas toilet juga umum digunakan di Cina.

Tetapi produsen dan pengiklan AS adalah orang-orang yang secara agresif mendorong penggunaan kertas toilet di abad ke-20, terutama jenis-jenis tertentu.

Misalnya, orang Inggris masih menggunakan kertas toilet yang keras pada tahun 1970-an, karena mereka tidak mempercayai kertas lunak yang dibuat oleh orang Amerika.

Keluarga Kuo sekarang menggunakan lebih sedikit tisu toilet, diikuti dengan tisu basah yang bisa dibuang ke dalam toilet.

Ini semacam pengakuan Amerika tentang apa yang diketahui orang-orang di negara lain selama berabad-abad: bahwa sesuatu yang lembab membersihkan lebih baik.

Duduk atau jongkok?

Keluarga Kuo juga telah berkompromi terkait topik yang memecah belah : duduk vs jongkok.

Kedua jenis toilet itu digunakan selama Dinasti Han (206 sebelum masehi sampai 220 masehi), dan ada perbedaan regional di Cina dalam preferensi kedua toilet ini, meskipun toilet umum nasional di China didominasi toilet jongkok.

Bahkan hari ini, diperkirakan dua pertiga dari orang-orang di dunia menggunakan toilet jongkok.

Namun banyak orang Barat tetap resisten terhadap model yang bisa dibilang lebih logis dan lebih nyaman daripada 'tahta porselen'.

Pertimbangkan bahwa mayoritas wanita di Inggris mengaku sering berjongkok atau berdiri di toilet umum untuk menghindari kontak langsung dengan kursi toilet.

Toilet jongkok sendiri menghindari keintiman yang berlebihan.

Hak atas foto Getty Images

By

Secara anatomi, jongkok juga merupakan postur yang lebih baik, karena memungkinkan jalur buang air yang lebih mulus.

Pergerakan usus lebih cepat dan mengurangi ketegangan.

Hal ini bahkan sering tidak diperhitungkan sebagai manfaat kesehatan dari berjongkok secara umum - sebuah praktik (dan tampilan) kekuatan dan fleksibilitas.

Orang Amerika telah mengubah waktu toilet yang lebih lama ini menjadi bentuk hiburan.

Ada pasar besar untuk membaca buku sambil duduk di toilet, yang umumnya melibatkan hal-hal sepele, seperti cerita pendek, atau lelucon.

Menurut Kuo itu aneh.

"Apa yang akan dikatakan semua orang tua Cina kepadamu adalah: jangan membaca di toilet. Anda bisa kena wasir."

Hak atas foto Getty Images

By

Keluarga Kuo telah memberikan solusi untuk rumah tangga Tionghoa mereka.

"Kami menggunakan bangku kecil untuk tumpuan kaki di depan toilet, jadi ketika Anda melakukan 'bisnis' Anda, Anda seperti sedang berjongkok," katanya, tertawa.

"Saya pikir istri saya jenius karena telah menemukan itu."

Beberapa perusahaan berusaha menggarap pasar ini dengan produk yang dikenal sebagai "Squatty Potty". Garg memiliki satu.

Jenis kompromi lain adalah memberi orang pilihan.

Fasilitas di negara-negara tertentu menyediakan toilet duduk dan jongkok. Seperti yang dikatakan Othman tentang negara asalnya, Malaysia, "Di toko perbelanjaan, mereka biasanya mengalokasikan 1/3 dari toilet umum yang tersedia untuk toilet jongkok."

Penelitiannya menunjukkan bahwa Muslim Australia merasa nyaman dengan beralih dari toilet jongkok ke toilet duduk - tetapi mereka tetap lebih suka air daripada kertas toilet.

Kebiasaan mandi akibat iklan sabun

Mandi juga bervariasi secara budaya. "Ada kecenderungan untuk mandi di pagi hari di masyarakat Barat, atau menjadi basah setiap hari, dan sebetulnya itu aneh," kata Elizabeth Shove, seorang sosiolog di University of Lancaster yang meneliti praktik konsumsi air dan energi.

Salah satu pengaruh utama adalah iklan sabun yang populer setelah perang dunia: produk-produknya termasuk sabun Lifebuoy di Zimbabwe dan sabun Ivory di AS.

Bahkan istilah 'opera sabun' mendapatkan namanya dari iklan sabun besar-besaran di Amerika.

Saat ini, kebiasaan untuk menggunakan sabun khusus untuk tubuh dan wajah secara khusus juga disebabkan pemasaran produk.

Hak atas foto Getty Images

By

Hal-hal itu akhirnya berpengaruh pada kebiasaan untuk lebih sering mandi.

Konsep lain yang relatif baru di Barat adalah kebiasaan mandi setiap hari.

Shove mencatat bahwa dua generasi yang lalu, di Inggris, orang biasanya mandi seminggu sekali.

Tentu saja, di banyak tempat di seluruh dunia saat ini - seperti di Inggris dalam beberapa dekade terakhir - persediaan air tidak dapat diandalkan, dan banyak orang tidak memiliki pilihan tentang berapa kali mereka harus mandi.

Tetapi ketersediaan air bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi hal ini.

Mandi yang sering adalah hal yang biasa, bahkan, misalnya, di daerah yang tingkat ekonominya rendah, seperti di Lilongwe, Malawi, yang penghuninya mungkin mandi dengan ember dua atau tiga kali sehari, meskipun akses air sangat terbatas.

Banyak warga Ghana, Filipina, Kolombia, dan Australia, di antara yang lainnya, juga mandi beberapa kali sehari.

Hak atas foto Getty Images

By

Ini mungkin tidak termasuk mencuci rambut setiap kali, dan mungkin kebiasaan cuci kaki.

Rutinitas khas mandi pagi hari ini merupakan refleksi dari gagasan kontemporer tentang bagaimana seseorang memulai hari. Ada juga perasaan bahwa mandi sebagai cara membuat diri Anda layak dilihat oleh orang lain.

Tentu saja, ada banyak variasi penggunaan toilet di negara mana pun, jadi ada pengecualian untuk semua tren ini.

Dan sejarah menunjukkan bahwa tidak ada kebiasaan yang permamen di suatu tempat - semuanya bisa berubah seiring dengan perkembangan budaya dan teknologi.

Di masa depan, mungkin, orang-orang di Barat akan dengan bangga mandi seminggu sekali karena pertimbangan lingkungan atau mengganti pancuran air dengan ember dan gayung, untuk lebih hemat air.

Kebiasaan di kamar mandi tampaknya merupakan hasil dari banyak pengondisian sosial.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The peculiar bathroom habits of westerners di laman BBC Future.