Kisah depresi di negeri paling bahagia di dunia
BBC Indonesia

5 days ago

Kisah depresi di negeri paling bahagia di dunia

Hak atas foto Maciej Luczniewski/NurPhoto via Getty Images

Finlandia berulang kali memuncaki daftar negara paling bahagia di dunia. Status itu menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak muda di sana yang mengalami depresi.

Berjemur di teras sebuah kedai kopi dengan furnitur minimalis khas Skandinavia dan kain berwarna-warni, Tuukka Saarni adalah wajah sempurna Finlandia yang selama dua tahun berturut-turut menduduki puncak daftar negara paling bahagia di dunia versi PBB .

"Saya cukup bahagia saat ini," kata pemuda 19 tahun yang baru lulus SMA dan sedang bersiap memulai pekerjaannya di sebuah swalayan setelah berbulan-bulan mencari kerja.

Bahkan Saarni menilai tingkat kebahagiaannya sempurna, bernilai 10 dari 10. Ia mengatakan bahwa tak ada satupun dari lingkaran pertemanannya yang pernah merasakan depresi.

"Hidup kami berjalan sangat lancar," katanya. "Segalanya berjalan baik. Cuaca di sini bagus - terkadang, setidaknya - pendidikan yang bagus dan jaminan kesehatan yang bagus pula."

Budaya negerinya yang mendukung orang-orang untuk bisa menghabiskan waktu sendirian ataupun bersama teman menjadi sesuatu yang amat ia hargai, demikian juga alam Finlandia yang melimpah dan tingkat pengangguran yang rendah.

"Tersedia banyak pekerjaan… jika seseorang siap mendaftar dan mencari pekerjaan, saya rasa siapapun bisa mendapat pekerjaan," ujar Saarni.

Pertanda-pertanda seperti itulah - juga dengan tingkat kepercayaan dan keamanan yang tinggi, serta rendahnya tingkat kesenjangan sosial - yang menjelaskan peringkat tinggi Finlandia dalam daftar negara paling bahagia di dunia - yang terkadang cukup kontroversial .

Negara kecil di belahan bumi utara dengan populasi sebesar 5,5 juta itu, secara historis memiliki stereotip sebagai bangsa yang memiliki mental melankolis berkat musim dingin panjang nan gelap yang menyelimutinya.

Finlandia tidak terlihat seperti tempat di mana Anda melihat orang-orang tampak bahagia atau menampakkan emosi positif.

Meski demikian, seperti negara-negara Skandinavia lainnya , Finlandia memenuhi berbagai kriteria yang biasanya memengaruhi penilaian subyektif tentang tingkat kesejahteraan suatu bangsa di seluruh dunia.

Hak atas foto Maddy Savage

By

'Dunia menjadi semakin kompleks'

Akan tetapi, banyak pengamat yang menganggap citra Finlandia sebagai negeri bahagia menutupi berbagai tantangan yang sedang dihadapi terkait kesehatan mental warganya, terutama para muda-mudi.

Beberapa bahkan meyakini bahwa citra itu justru semakin membuat warga Finlandia sulit mengenali dan mengakui adanya gejala-gejala depresi dan mencari pertolongan.

Tingkat kasus bunuh diri di Finlandia sekarang sudah tinggal separuh dari jumlah kasus di tahun 1990-an dan berkurang di berbagai kelompok usia.

Capaian itu sebuah perubahan yang dinilai tercapai berkat kampanye pencegahan bunuh diri berskala nasional ketika kondisi sedang buruk-buruknya, sekaligus berkat penanganan depresi yang membaik.

Namun jumlahnya masih tetap di atas angka rata-rata Eropa. Sepertiga kasus kematian penduduk berusia 15 sampai 24 tahun disebabkan oleh bunuh diri.

Menurut laporan berjudul In the Shadow of Happiness tahun 2018, yang disusun oleh Institut Penelitian Kebahagiaan di Copenhagen, sekitar 16% penduduk perempuan Finlandia berusia 18-23 tahun dan 11% pemuda mengaku "kesulitan" atau "menderita" dalam hidup.

Angkanya semakin parah untuk kelompok usia di atas 80 tahun.

Tingkat kasus bunuh diri di Finlandia sekarang sudah tinggal separuh dari jumlah kasus di tahun 1990-an… Namun jumlahnya masih tetap di atas angka rata-rata Eropa

Penelitian nasional mendalam terkait depresi di Finlandia terakhir kali dilakukan tahun 2011, namun organisasi nirlaba Mieli (Mental Health Finland) memperkirakan sekitar 20% penduduk berusia di bawah 30 tahun telah mengalami gejala depresi hingga tahun lalu.

"Ini terjadi secara merata," kata Juho Mertanen, psikolog di organisasi tersebut. "Dan ada pertanda bahwa jumlahnya meningkat, meskipun peningkatannya tidak seekstrem laporan media-media setempat."

Laporan Pusat Kesejahteraan dan Isu Sosial Nordik tahun 2017 menyoroti kaitan erat penyalahgunaan narkoba dengan buruknya kesehatan masyarakat.

Mereka mencatat, warga Finlandia mengonsumsi lebih banyak alkohol ketimbang warga negara-negara Nordik yang lain. Kemudian juga terjadi peningkatan penggunaan obat-obatan terlarang pada kelompok usia 25-34 tahun.

Meski angka pengangguran nasional rendah, jumlahnya paling banyak terdapat pada kelompok usia muda. Sekitar 12,5% warga usia 15-19 tahun merupakan pengangguran hingga akhir tahun 2018. Angka itu merupakan yang tertinggi di kalangan negara Nordik dan berada di atas angka rata-rata Uni Eropa, yaitu 11,5%.

Hak atas foto Maddy Savage

By

Mertanen yakin, ketersediaan pekerjaan di Finlandia berperan dalam masalah kesehatan mental anak muda, karena "banyak ketidakpastian belakangan ini". Meskipun menurut standar internasional Finlandia tergolong negara dengan kondisi finansial yang stabil, menurutnya, angka kesenjangan sosial meningkat.

Mertanen juga menggarisbawahi fakta bahwa Finlandia tengah menghadapi tren dunia dalam hal digitalisasi dan gig economy - pasar pekerjaan dengan ciri khas kontrak jangka pendek atau pekerjaan lepas. Dua tren itu mulai diperbincangkan dalam berbagai diskusi terkait kesehatan mental anak-anak muda di dunia Barat.

"Dunia menjadi semakin kompleks… Perekonomian berubah, semakin sedikit jenis karir yang bersifat stabil di mana Anda bisa masuk, lalu bekerja dan pensiun," ujar Mertanen.

Menurutnya, media sosial mungkin juga berdampak pada kesehatan mental anak muda Finlandia dan negara lainnya.

Meski dengan cepat mengklarifikasi bahwa penelitian jangka panjang berskala besar untuk mempelajari dampak 'likes' pada Instagram dan Facebook masih sangat terbatas, ia menyebut orang depresi cenderung suka memperbandingkan segala sesuatu.

Media sosial lantas dianggap memberi jalan pintas bagi sebagian orang untuk mulai membandingkan momen-momen terburuk mereka dengan momen-momen terbaik kehidupan orang lain.

Meskipun menurut standar internasional Finlandia tergolong negara dengan kondisi finansial yang stabil, menurutnya, angka kesenjangan sosial meningkat

Mertanen berkata, sangat mungkin citra Finlandia sebagai tempat di mana orang-orang diperkirakan merasa puas dengan hidup mereka justru memperburuk dampak negatif tren global itu terhadap anak-anak muda Finlandia, yang tidak merasa pengalaman mereka sesuai dengan stereotip itu.

"Saya rasa penelitian soal tingkat kebahagiaan dan media sosial memperparah pandangan terhadap dunia hitam-putih yang dilihat oleh orang depresi," ungkapnya.

'Semuanya baik-baik saja, hingga…'

Itu adalah pandangan yang banyak dianut anak muda Finlandia yang sudah pernah mengalami sendiri depresi.

"Anda hampir merasa bahwa Anda tidak berhak depresi di negara seperti Finlandia yang memiliki standar hidup sangat tinggi," jelas Kirsi-Marja Moberg, kini berumur 34 tahun.

Moberg pertama kali didiagnosa menderita depresi saat masih remaja. Ia berjuang keras melawan penyakit tersebut sepanjang usianya di kepala dua.

Hak atas foto Maddy Savage

By

"Anda benar-benar merasa bahwa Anda sebaiknya bersenang-senang dan menikmati segala kesempatan yang ada ketika masih muda. Masyarakat pun memberi penilaian itu tentang Anda."

"Di Finlandia… Anda merasa bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, meski kenyataannya tidak," ujar Jonne Juntura. Jonne adalah dokter berusia 27 tahun yang pernah depresi selama enam bulan semasa kuliah.

Jonne berkata, meski kondisi pribadi dan sosial yang sulit seringkali dikaitkan dengan depresi, misalnya patah hati atau mengalami kemunduran finansial, depresi merupakan penyakit yang dapat menimpa siapa saja tanpa peduli standar kehidupan yang bersangkutan.

Meskipun statistik menunjukkan bahwa kita adalah negara paling bahagia dunia, data itu tidak menceritakan kondisi yang ada secara utuh

"Meskipun statistik menunjukkan bahwa kita adalah negara paling bahagia dunia, data itu tidak menceritakan kondisi yang ada secara utuh. Karena depresi adalah sebuah penyakit dan kemunculannya tidak selalu berhubungan dengan kondisi sekitar."

"Ketika saya sendiri jatuh sakit (depresi), semuanya baik-baik saja dalam hidup saya. Saya sedang menikmati sekolah. Saya menyukai hobi-hobi saya. Saya sudah punya pacar. Tidak ada yang salah dengan hidup saya. Tapi tetap saja, saya jatuh sakit," jelasnya.

Stigma sosial?

Kebanyakan ahli kesehatan mental sepakat bahwa berbagai tabu yang menyelimuti penyakit depresi dan kegelisahan mulai luntur di Finlandia, terutama semenjak adanya gerakan nasional antibunuh diri. Hal itu mendorong lebih banyak orang mencari pertolongan, yang ironisnya justru mempersulit upaya untuk membandingkan angka depresi dari tahun ke tahun di semua kelompok umur.

Namun banyak muda-mudi Finlandia yang pernah mengalami depresi, termasuk Kirsi-Marja Moberg, meyakini bahwa masih ada stigma yang melekat pada orang "yang diketahui sebagai orang depresi".

"Tergantung lingkaran sosial di mana orang itu tinggal, atau, mungkin jika Anda tinggal di Finlandia, betapa bebasnya orang membicarakan masalah ini… maka tabu itu masih ada di sana," katanya.

Hak atas foto Maddy Savage

By

Sementara itu, dalam budaya di mana privasi amat dihargai, emosi yang ditunjukkan secara terang-terangan adalah sesuatu yang langka, bahkan basa-basi pun biasanya hanya seperlunya saja, diskusi serta pengakuan atas masalah depresi tetap menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi warga Finlandia yang menderita penyakit mental tersebut.

"Ini bukan cuma masalah stereotip," kata Jonne Juntura, mengomentari reputasi orang Finlandia yang irit dalam berkomunikasi.

Jonne, yang kini menangani pasien depresi, mengatakan bahwa pemuda di Finlandia sulit mengutarakan masalah yang sedang mereka lalui.

"Masalah kesehatan jiwa masih dikaitkan dengan anggapan lemah, dan dalam budaya maskulin, beberapa orang enggan mengatakan bahwa mereka tengah merasa sangat buruk."

Mendapatkan bantuan

Dalam hal mencari bantuan untuk masalah depresi, pemerintah kota bertanggung jawab menyediakan layanan kesehatan mental yang mendapat banyak subsidi dari pajak.

Artinya, seperti di negara-negara Nordik lain yang memiliki sistem kesejahteraan sosial kuat, siapapun yang tengah mengalami masalah kesehatan jiwa tidak seharusnya sulit mendapatkan bantuan.

Warga di negara-negara itu pun tidak semestinya tak mampu secara finansial untuk membiayai penanganan medis itu.

Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir muncul perdebatan politik terkait daftar tunggu yang panjang layanan kesehatan mental di kota-kota besar, akses untuk mendapatkan penanganan bagi pasien di kawasan-kawasan terpencil, dan mengelola perawatan untuk remaja seiring beralih ke masa dewasa.

Hak atas foto Maddy Savage

By

"Sangat sulit untuk mendapat bantuan kesehatan mental dengan cepat... mungkin harus berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Dan dalam situasi krisis, itu terlalu lama," kata Emmi Kuosmanen, yang menangani para siswa remaja di sebuah SMA di Helsinki.

"Saya rasa kebutuhannya sudah meningkat... tetapi layanan kesehatannya tidak bisa mengejar itu."

Psikolog dari Mental Health Finland, Juho Mertanen, sepakat bahwa intervensi lebih awal sangatlah krusial untuk proses pemulihan, terutama di kalangan anak muda yang menghadapi gejala-gejala depresi untuk pertama kalinya.

"Dalam hal kesehatan mental, biasanya jika Anda tidak cepat mendapat pertolongan, maka proses semacam 'menggali lebih dalam' (masalah itu) menjadi lama," ujarnya.

Perangkat yang semakin populer belakangan adalah platform online bernama Mental Health Hub, yang dibuat oleh Profesor Grigori Joffe dan Dr Matti Holi dari rumah sakit Helsinki University Central.

Aplikasi itu adalah tanggapan terhadap pelayanan kesehatan jiwa yang terbagi-bagi sekaligus memenuhi kebutuhan perawatan masyarakat Finlandia yang penduduknya minim tapi tersebar.

Perangkat yang digunakan oleh semua distrik kesehatan itu menyediakan informasi tempat perawatan, peralatan perawatan mandiri dan bahkan sesi video terapi bagi mereka yang mengidap depresi ringan. Selain itu juga terdapat nomor hotline nasional yang dikelola pemerintah.

Sementara itu, petisi publik nasional yang menuntut setiap orang yang membutuhkan perawatan kesehatan mental untuk diberikan intervensi psikoterapi singkat - sesingkat satu bulan, telah ditandatangani 50 ribu orang, yang memenuhi jumlah minimal agar inisiatif tersebut didiskusikan di parlemen.

Menteri Urusan Keluarga dan Layanan Sosial Finlandia, Krista Kiuru, mendukung inisiatif tersebut. Para politisi pun rencananya akan membahas masalah itu tahun ini.

Biaya tahunan untuk inisiatif yang dinamai 'Jaminan Terapi' itu diperkirakan mencapai €35 juta per tahun (lebih dari Rp500 miliar). Sejumlah pendukung inisiatif itu mengatakan bahwa angka itu bisa dihemat 10 kali lipat dengan membantu mengurangi jumlah tunjangan sakit dan pengangguran.

Hak atas foto Maddy Savage

By

Kesadaran dunia

Dokter Jonne Juntura yakin bahwa meskipun Finlandia saat ini masih kesulitan untuk menangani masalah depresi di kalangan anak muda, pelayanan kesehatan mental akan terus membaik.

Seiring dengan investasi yang lebih besar dalam melakukan intervensi lebih awal, Juntura berharap diskusi nasional yang lebih luas akan semakin tumbuh mengingat meningkatnya kesadaran dunia akan masalah depresi.

Keputusan PBB untuk memasukkan masalah kesehatan mental ke dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) baru-baru ini merupakan satu dari lautan contoh perubahan sikap masyarakat terhadap isu depresi, menurut Juntura.

"Orang-orang perlahan mulai paham betapa besarnya masalah kesehatan mental, dan berapa banyak layanan kesehatan yang dibutuhkan setiap orang, dan kalau melihat masyarakat..." tuturnya, "masih banyak yang harus diperbaiki... Tapi saya sangat optimis."

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di Being deppressed in the 'world's happiest country' pada laman BBC Worklife .