Polri tangkap dua orang yang pekerjakan WNI di Taiwan dengan iming-iming beasiswa kuliah
BBC Indonesia

5 days ago

Polri tangkap dua orang yang pekerjakan WNI di Taiwan dengan iming-iming beasiswa kuliah

Hak atas foto Getty Images

Kepolisian RI menangkap dua orang yang dituduh menyalurkan warga Indonesia untuk bekerja di Taiwan dengan iming-iming beasiswa kuliah.

Penangkapan dua orang berinisial LK dan MJ ini diungkap kepada wartawan di Bareskrim Polri, Rabu (9/10).

"Modusnya tersangka menawarkan kepada calon korban untuk kuliah dengan diberi beasiswa atau dibiayai sambil kerja dengan modal biaya administrasi Rp35 juta," kata Wakil Direktur Tindak Pidana Umum (Wadirtipidum) Kombes Agus Nugroho dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip Kompas.com .

Tapi, jelas Agus, setelah korban kuliah dan bekerja di Taiwan, penghasilan mereka akan digunakan untuk melunasi biaya administrasi tersebut.

Para korban rata-rata berasal dari wilayah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Dalam menjalankan aksinya, pelaku disebut meminta para korban melengkapi administrasi selayaknya seseorang akan mendaftar kuliah, termasuk memberikan dokumen KTP, Kartu Keluarga (KK), SKCK, surat persetujuan orang tua, hingga ijazah sekolah.

Sebelum diberangkatkan, papar Agus, para korban dan calon korban direkrut dan ditampung terlebih dulu selama beberapa waktu di Jakarta.

"Selama di penampungan, ada semacam kamuflase dengan menghadirkan perwakilan dari Taiwan yang mewawancarai korban untuk meyakinkan korban dan keluarganya," terang dia.

"Sesudah (dokumen) lengkap, mereka lalu diberangkatkan ke Taiwan," lanjut dia.

Atas perbuatannya, LK dan MJ dijadikan tersangka dengan Pasal 4 Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan atau Pasal 83, Pasal 86 Huruf A UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.

Hak atas foto EPA

By

Pada Januari lalu, anggota parlemen Taiwan dari Partai Kuomintang, Ko Chih-en, menyebutkan sejumlah universitas mempekerjakan secara paksa ratusan mahasiswa Indonesia ke pabrik-pabrik dalam program magang.

Anis Hidayah, ketua pusat studi migrasi Migrant Care, menilai ada unsur perdagangan manusia dalam skema tersebut.

"Kita melihat ini trafficking ya, tapi dengan modus pengiriman mahasiswa magang. Sebenarnya, ini sudah lama sekali modus seperti ini," ungkap kepada wartawan BBC News Indonesia, Rivan Dwiastono, Januari lalu.

Anis mengatakan yakin praktik ini perdagangan manusia karena terjadinya overtime alias jam kerja melewati peraturan dan gaji yang tidak standar.

"Ketiga, unsur eksploitasinya masuk, kemudian yang keempat, bahwa ada penipuan di banyak proses. Yang kelima, tentu keuntungan besar oleh para pemainnya," paparnya.

Menurut Anis, kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di Malaysia dengan tawaran edukatif dijadikan kedok perdagangan manusia.

"Itu dimanfaatkan, karena ini dilihat reguler, potensinya ada, jaringan trafficking itu kan melihat supply dan demand juga," tutur Anis.