Ini Deretan Spesies Baru Hewan Temuan Peneliti LIPI
Kumparan.com

9 weeks ago

Ini Deretan Spesies Baru Hewan Temuan Peneliti LIPI

Di sela-sela kebakaran hutan dan lahan, invasi manusia pada alam, deforestasi, serta perdagangan satwa liar mengancam keberadaan satwa endemik Indonesia yang belum tereksplorasi, muncul kabar baik. Ada penemuan beberapa spesies baru yang menjadi angin segar di tengah krisis keanekaragaman hayati yang sedang terjadi.

Penemuan itu dilakukan para peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ). Spesies-spesies baru ini para peneliti temukan berkat berbagai ekspedisi menjelajah pelosok Indonesia dan Malaysia yang mereka lakukan.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan spesies baru katak tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis) di Laboratorium Gedung Widyasatwaloka, LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Salah satu spesies baru yang peneliti temukan adalah katak tanduk Kalimantan ( Megophrys kalimantanensis ) yang merupakan katak jenis baru. Spesies ini ditemukan tim peneliti gabungan LIPI, Kyoto University, Aichi University of Education, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Negeri Semarang. Analisis detailnya telah dipublikasikan di jurnal Zootaxa pada 24 September 2019.

“Jenis baru ini dikoleksi dari ekspedisi yang dilakukan di pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, juga di Bario, Sarawak, dan Pegunungan Crocker di Sabah, Malaysia,” ujar Amir Hamidy, peneliti bidang herpetologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, dalam siaran pers yang diterima kumparan .

Megophrys kalimantanensis. Foto: Tomoshiko Shimada

Adapun morfologi katak tanduk Kalimantan ini sangat mirip dengan katak tanduk pinokio ( Megophrys nasuta ) yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya hingga pulau-pulau kecil di sekitarnya. Spesies katak M. kalimantanensis ini memiliki tanduk (dermal accessory) lebih pendek pada bagian moncong dan matanya jika dibandingkan dengan katak tanduk pinokio.

Katak tanduk Kalimantan juga memiliki sepasang lipatan lateral tambahan pada sayap. Secara akustik, suara individu jantan dari jenis baru ini memiliki variasi yang lebih banyak dan lebih panjang ketimbang dengan katak tanduk pinokio.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan spesies baru katak tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis) di Laboratorium Gedung Widyasatwaloka, LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

“Berdasarkan hasil analisis dari tiga metode pendekatan tersebut kami menyimpulkan bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru dan kemudian diberi nama Megophrys kalimantanensis,” papar Amir.

Selain katak tanduk kalimantan, peneliti LIPI juga berhasil menemukan tiga spesies baru kodok wayang dari hutan dan dataran tinggi Sumatera. Pertama yakni Sigalegalephrynus gayoluesensis dari Gayo Leus, Aceh, lalu ada Sigalegalephrynus burnitelongensis dari gunung Burni Telong, Aceh, dan Sigalegalephrynus harveyi dari gunung Dempo, Sumatera Selatan.

“Genus Sigalegalephrynus memiliki lebih banyak spesies endemik dibandingkan genus kodok lainnya di Indonesia,” ujar Irvan Sidik, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI .

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan spesies baru kodok wayang di Laboratorium Gedung Widyasatwaloka, LIPI Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Lebih lanjut, hasil analisis filogenetik mengindikasikan terdapat perbedaan taksonomi antara kodok yang hidup di dataran tinggi utara dan selatan.

“Hasil identifikasi karakteristik morfologis, genetik dan akustik dari ketiga spesies baru tersebut berbeda dengan dua spesies genus Sigalegalephrynus sebelumnya yaitu Sigalegalephrynus mandailinguensis dari gunung Sorikmarapi, Sumatera Utara, dan Sigalegalephrynus minangkabauensis dari gunung Kunyit, Jambi,” terang Irvan.

Burung Myzomela prawiradilagae. Foto: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Selain katak dan kodok, peneliti juga menemukan burung jenis baru bernama Myzomela prawiradilagae . Hasil analisis atas burung ini telah dipublikasikan di Journal of Ornithology pada 24 September 2019. Penemuan ini menambah daftar panjang temuan satwa endemik burung di Indonesia.

“Penamaan burung jenis baru dari pulau Alor ini merupakan bentuk penghargaan kepada peneliti senior bidang ornitologi LIPI, Dewi Prawiradilaga atas kontribusi besarnya untuk pengembangan penelitian ekologi dan konservasi burung Indonesia,” ujar Mohammad Irham, peneliti bidang ornitologi Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Menurut Irham, secara fisik M. prawiradilagae memiliki kemiripan warna dengan Myzomela dammermani dari Sumba dan Myzomela vulnerata dari Timor. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa burung M. prawiradilagae merupakan burung pemakan madu alias nektorivora, dan secara filogenetik berkerabat dengan M yzomela kuehni dari pulau Wetar, Maluku. Kendati begitu, dilihat dari karakter morfologi, bioakustik, dan ekologi, burung M. prawiradilagae memiliki perbedaan yang signifikan.