Bagaimana bisa gagasan segelintir orang mempengaruhi nasib negara?
BBC Indonesia

4 days ago

Bagaimana bisa gagasan segelintir orang mempengaruhi nasib negara?

Hak atas foto Getty Images

Segelintir orang yang sangat berpengaruh dapat mengubah perdebatan politik. Namun apakah mereka membuat pandangan masyarakat menjadi lebih terpolarisasi?

Apakah Anda merasakan perdebatan politik kini semakin mengkotak-kotakkan masyarakat?

Tentu saja di negara tempat saya tinggal, Inggris, politik menghadapi kebuntuan. Kesan yang saya rasakan, suatu kelompok yang keras kepala terus-menerus mengulang perdebatan serupa tanpa jalan keluar.

Situasi itu membuat frustrasi, sangat membosankan, dan dari sudut pandang ilmu sosial, cukup membingungkan.

Tapi bagaimana kalau polarisasi sebenarnya memang diharapkan?

Dan bagaimana jika itu bukanlah hasil dari ketidakpedulian atau pikiran sempit, tapi respons sempurna atas kesalahan dan kelemahan manusia?

Beberapa kajian terakhir menunjukkan, salah satu dasar polarisasi yang kita rasakan sekarang bermula dari kelompok minoritas yang berpengaruh.

Peneliti ilmu sosial humaniora kerap menjelaskan secara historis bahwa polarisasi merupakan buah dari sesat pikir. Tentu, apapun alasannya, walaupun salah informasi, seseorang akan menerima suatu pandangan ketika mereka keliru.

Seseorang yang secara keras kepala teguh pada keyakinan keliru mereka, saat ditunjukkan bukti sahih, tampak jelas bertindak irasional.

Namun sebuah kajian yang belakangan dipublikasikan menggugat teori akal sehat. Faktanya, polarisasi dapat terjadi di tengah masyarakat yang menjunjung akal sehat, terutama saat Anda mempertimbangkan batas kemampuan otak.

Hak atas foto Getty Images

By

Suatu persoalan yang ada dalam kajian pola pikir rasional dan irasional adalah tak ada satupun manusia yang akalnya dapat benar-benar disebut sehat.

Sulit juga memprediksi kapan seseorang akan bertindak rasional atau irasional, atau mengontrol tindakan mereka dalam sebuah eksperimen.

Untuk itu, sekelompok peneliti dari Amerika Serikat, Jepang, Belgia, dan Korea Selatan bereksperimen dengan modul komputer yang mereka program untuk bertindak rasional atau irasional.

"Modul ini ditugaskan memberi pendapat, tapi mereka dapat mengubah argumentasi setelah berinteraksi dengan modul lainnya," kata Jiin Jung, peneliti dari Claremont Graduate University yang terlibat kajian tersebut.

Jika seluruh modul komputer itu bertindak rasional, Anda dapat berharap mereka saling bertukar pendapat. Dan dalam kondisi tertentu, mereka semestinya dapat mengubah pandangan jika menganggap argumentasi modul lain lebih kuat.

Sejumlah modul itu diciptakan untuk bertindak rasional atau irasional melalui proses manipulasi ingatan. Sebagian modul diberikan ingat sempurna, sementara yang lain diberi memori yang bisa keliru.

Hak atas foto Getty Images

By

"Modul dengan ingatan tak terbatas dapat mengingat argumen dari perspektif manapun," kata Jung.

"Modul yang bisa lupa dibagi ke kelompok yang secara acak lalai dan yang tak mengingat argumentasi lemah."

"Modul dengan memori terbatas tidak dapat terpolarisasi," kata Jung. Namun tak ada manusia yang mempunyai ingatan benar-benar sempurna.

Yang lebih unik, kata Jung, terjadi saat kita mencatat fakta bahwa perhatian kita memunculkan perspektif, serta bahwa ingatan dan energi untuk berdebat dapat berubah.

"Jika jika rasional dengan ingatan yang terbatas, itu menyebabkan bipolarisasi atas suatu opini dalam kelompok."

"Walaupun kita betul-betul rasional, publik dapat terpecah-pecah karena kita lupa pada pendapat mereka," ujar Jung.

Menurut Jung, penelitian ini dapat membantu cara kita berbicara tentang masyarakat yang terpolarisasi. Ketika kita ertemu seseorang yang memiliki keyakinan berbeda, kita semestinya berupaya tidak menganggapnya tidak masuk akal.

Bukannya berpikiran kita mesti memperbaiki pola pikir mereka, kita perlu menilik hal-hal yang mempengaruhi keputusan mereka.

Ingatan rendah, stres, ketidakpastian hingga diskriminasi, dapat mendorong seseorang menjauhi nilai atau norma standar.

Hak atas foto Getty Images

By

Orang luar

Kita barangkali bersalah dari waktu ke waktu karena tak memiliki energi dan kemauan untuk menguji pendapat kita. Jadi, jika sebagian besar orang yang merasa rasional tak kuasa menghadapi polarisasi, lantas apa yang mendorong mereka ke arah itu?

Sejumlah minoritas dengan pandangan yang kuat dapat memainkan peran besar, kata Amber Gaffney, psikolog sosial dari Humboldt State University di California, AS. Tapi tidak seperti yang Anda bayangkan.

"Banyak orang tidak menganggap diri mereka sebagai ekstremis," kata Gaffney.

"Padahal mereka sebenarnya memiliki pandangan di luar kewajaran. Saat gerakan Tea Party menunjukkan pengaruh besar, wacana mereka terkadang sangat berlebihan bagi kalangan konservatif."

"Namun sebenarnya kaum konservatif yang moderat menggalang gerakan Tea Party dengan cara lain," ujar Gaffney.

Gerakan Tea Party yang disebutnya merujuk pada gerakan di internal Partai Republik di AS yang mendorong kebijakan fiskal ekstrem, seperti pajak rendah dan pengurangan pengeluaran negara.

Baik penyokong gerakan Tea Party maupun konservatif moderat mengidentifikasi diri mereka sebagai Republikan di AS.

Konsekuensinya, kaum konservatif moderat cenderung merasa serupa dengan kalangan gerakan Tea Party ketimbang daripada kaum Demokrat.

Meskipun tak dapat dipungkiri, orang orang moderat di Partai Republik memiliki lebih banyak kesamaan dengan politikus Demokrat yang moderat. Dalam situasi itu, Demokrat adalah kelompok luar.

Hak atas foto Getty Images

By

"Mengadopsi sesuatu dari kelompok kecil dalam grup memungkinkan Anda menarik golongan Anda dari sesuatu yang tak Anda inginkan," kata Gaffney.

"Demokrat adalah kelompok luar dan Partai Republik tanpa sadar menggunakan gerakan Tea Party untuk menarik diri dari lawan politik mereka."

Kaum konservatif moderat mungkin tidak setuju dengan gagasan ini. Tapi penelitian menunjukkan, melalui pergaulan dengan minoritas ekstrem, opini Anda dapat berubah secara mengejutkan.

Penelitian Gaffney didasarkan pada pemikiran William Crano, bahwa pesan yang jelas, bahkan jika Anda tidak setuju dengan itu, bisa cukup untuk menggerakkan Anda pada topik lain.

Dalam salah satu studinya, Crano mengamati kelompok kecil mahasiswa menentang kelompok gay berdinas di militer.

Mayoritas mahassiswa tidak sepakat dengan pandangan itu, tetapi mereka menjadi lebih konservatif dalam sejumlah masalah lain, pembaruan regulasi pengendalian senjata.

"Seringkali saat seseorang berada di pinggiran, kita tidak ingin mengikuti mereka. Kita tak ingin menyejajarkan diri dengan minoritas karena itu bakal membuat lubang dalam pemikiran kita," kata Gaffney.

Namun Crano berkata, pendapat ekstrem menekan seluruh kepercayaan Anda. Anda mungkin tidak segera mengubah sikap, tetapi itu melemahkan keyakinan Anda, yang mungkin berubah kemudian.

Hak atas foto Getty Images

By

Baru-baru ini di Inggris, Scott Mann, anggota parlemen yang sebelumnya tidak terkenal, men-cuitan ini:

"Setiap pisau yang dijual di Inggris seharusnya memiliki pelacak GPS yang terpasang di pegangannya. Sudah saatnya kita punya basis data nasional seperti yang diterapkan pada pistol."

"Jika Anda membawa pisau ke mana-mana, sebaiknya Anda memiliki penjelasan yang tepat, pengecualian yang jelas untuk memancing, dan lainnya."

Ini merupakan isyarat bahwa banyak orang menganggap pendapat itu lemah.

Meski gagasan memasang GPS di setiap pisau di Inggris bukan barang baru, ini bisa menjadi contoh tepat tentang yang dirujuk Gaffney dan Crano.

Kebanyakan orang mungkin menilai GPS tidak akan menghentikan kejahatan, tapi bisakah cuitan ini menjadi 'kuda troya' untuk mengubah sikap orang terhadap topik seperti kejahatan jalanan atau pemolisian?

Kecil itu kuat

Ketekunan dan konsistensi mendukung pendapat minoritas adalah kunci mengendalikan pengaruh. "Minoritas yang konsisten atau mengambil risiko atas kepentingan mereka sendiri bakal berpengaruh besar," kata Jung.

"Ketika Anda melihat para biksu Tibet yang membakar diri mereka sendiri, sifat ekstrem dari perbuatan mereka mengejutkan orang-orang moderat.

"Jika saya memiliki pendapat yang tidak terlalu kuat dan saya melihat seseorang berperilaku seperti itu, tiba-tiba saya berpikir mungkin saya salah dan perlu mengubah sikap."

Ukuran kelompok juga penting. Menjadi kecil bisa sangat berguna.

Jika suatu kelompok kecil, mereka lebih khas dibandingkan grup besar. Kelompok kecil punya satu pesan yang jelas, sedangkan grup besar memendam beragam pendapat berbeda.

Perbedaan itulah yang membuat kelompok kecil lebih berpengaruh, terutama jika mereka sangat konsisten.

Demikian juga, semakin banyak ketidakpastian dalam suatu populasi, semakin berpengaruh kelompok minoritas.

"Ketika orang merasakan ketidakpastian, mereka menggunakan nilai-nilai kuat untuk mendefinisikan diri mereka," kata Gaffney.

"Saat orang sangat tidak yakin tentang diri dan motivasi mereka, mereka tertarik pada berbagai jenis kepemimpinan, termasuk terhadap pemimpin otoriter dalam masyarakat demokratis."

Para pemimpin otoriter sering mempermainkan ketidakpastian ini, kata Gaffney, menggunakan retorika seperti "Kita kehilangan siapa diri kita".

Hak atas foto Getty Images

By

"Menyedihkan karena ketika orang meragukan posisi mereka dalam masyarakat, mereka mencoba mencari kelompok yang sangat radikal, yang dipimpin secara otoriter, yang memiliki norma dan batas yang jelas," kata Jung.

"Ketika orang tidak yakin tentang siapa mereka, hal-hal positif dan negatif menjadi tidak penting. Mereka cenderung tak memikirkan apakah tindakan mereka baik atau buruk."

Jung berkata, ini merupakan kasus di kelompok yang terpinggirkan. "Orang-orang tertindas melihat mayoritas sebagai keburukan, jadi kaum minoritas harus menjadi yang terbaik."

Namun perlu diingat bahwa prinsip yang sama dapat digunakan untuk membawa perubahan sosial positif.

Bahkan, kata Gaffney, sejumlah perubahan sosial positif terbesar adalah hasil dari kelompok minoritas yang berkohesi kuat dan memiliki identitas jelas.

"Ketika kita melihat perubahan sosial positif yang datang dari minoritas, tiliklah gerakan hak-hak sipil, suara wanita," kata Gaffney.

"Semua perubahan itu sangat positif dan dimulai oleh kelompok minoritas alias orang luar yang bekerja melawan norma."

Kita semua merupakan bagian dari sub-kelompok kecil yang berada dalam kompleksitas masyarakat. Minoritas ekstrem dapat berdampak positif dan negatif pada kelompok yang lebih besar.

Dan bahkan saat Anda menganggap ide radikal seseorang sebagai omong kosong, ingatlah bahwa mereka mungkin telah mengubah cara Anda berpikir.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Future dengan judul How the views of a few can determine the fate of a country .