Ini Kata Bank Mandiri Terhadap Gejolak Ekonomi Global
Moneysmart.id

6 days ago

Ini Kata Bank Mandiri Terhadap Gejolak Ekonomi Global

Gejolak ekonomi global masih berlanjut hingga saat ini. Selain memberikan dampak ketidakpastian, gejolak ekonomi yang timbul akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China ini memberikan efek negatif terhadap perekonomian negara berkembang. Disamping juga berpengaruh kepada bisnis keuangan.

Direktur Keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri), Panji Irawan meyakini, meski dihantam dampak negatif gejolak ekonomi global, perbankan nasional dinilai masih cukup tangguh dalam menghadapi gejolak ekonomi yang terjadi.

“Kondisi perbankan nasional juga masih cukup kuat menghadapi risiko-risiko yang timbul akibat tekanan ekonomi global. Perang dagang dan pelemahan harga komoditas,” kata Panji di Plaza Mandiri Jakarta.

Keyakinan tersebut dengan melihat Rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional yang tercatat cukup baik, yaitu sebesar 22,6 persen pada bulan Juni 2019.

Kemudian dari sisi rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 2,5 persen, menurun dibandingkan bulan Juni 2018 yang sebesar 2,67 persen.

Akan tetapi, kondisi ekonomi yang tidak stabil ini akan berdampak pada bisnis perbankan, seperti penyaluran kredit yang akan semakin ketat dan selektif kedepannya.

“Tantangan-tantangan ini mungkin akan menekan permintaan kredit perbankan nasional. Pada saat yang bersamaan, bank-bank nasional pun akan lebih selektif dalam penyaluran kredit mempertimbangkan prospek bisnis yang semakin ketat,” ujar Panji.

Perang Dagang Rugikan Indonesia

Polemik perang dagang ini juga memberikan kerugian yang sangat besar bagi Indonesia. Karena Indonesia menghadapi persoalan penurunan volume perdagangan, penurunan harga komoditas seperti kelapa sawit, hingga batu bara.

“Bagi Indonesia, perang dagang Antara Amerika Serikat dan China telah berdampak negatif terhadap penurunan kinerja ekspor melalui penurunan harga-harga komoditas. Harga minyak Kelapa sawit Crude Palm Oil (CPO) terus tertekan ketingkat harga sekitar US$ 500 per ton. Padahal harga rata-rata 2017 sebesar US$ 648 per ton dan tahun lalu turun lagi menjadi US$ 556 per ton,”

Hal serupa juga terjadi pada harga batubara, komoditas ini terus menurun pada harga US$ 65 per ton. Padahal harga rata-rata pada 2017 di atas US$ 100 per ton dan tahun lalu sebesar US$ 88,3 per ton.

Peluang Perbankan Nasional

Sementara itu, Panji megatakan, masih terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan oleh industri perbankan nasional di tengah peningkatan risiko dan ketidakpastian seperti peluang-peluang kredit dan bisnis transaksi.

Adapun beberapa sektor yang prospektif adalah yang didorong oleh berbagai program Pemerintah. Diantaranya sektor jasa kesehatan, farmasi, pendidikan, ekonomi kreatif dan pariwisata.

“Kami juga optimis pertumbuhan sektor infrastruktur ke depan masih akan baik. Selain itu, masih ada beberapa sektor lainnya yang memiliki prospek yang baik. Yaitu sektor perdagangan FMCG (fast moving consumer goods) dan sektor telekomunikasi sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat dan terus peningkatan penetrasi pengguna internet,” ujarnya.

Selain itu, perbankan nasional ditengah situasi saat ini sangat perlu memprioritaskan prinsip kehati-hatian dalam mengelola risiko bisnis dan portfolio kredit.

“Kami juga yakin peran Bank Indonesia dalam mengelola kebijakan moneter dan peran Pemerintah dalam mengelola kebijakan. Hal ini akan menghasilkan bauran kebijakan yang efektif dalam mendorong perekonomian nasional,” pungkasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah