Zat Kimia Diduga Sebabkan Banyak Pengguna Vape Sakit Paru-Paru Mendadak
VICE Indonesia

1 week ago

Zat Kimia Diduga Sebabkan Banyak Pengguna Vape Sakit Paru-Paru Mendadak

Ratusan orang Amerika mendadak kena penyakit paru-paru musim panas ini, dan dua di antaranya telah dinyatakan tewas. Seorang lelaki juga sampai sengaja ditidurkan karena memerlukan transplantasi paru-paru. Insiden misterius tersebut diyakini ada hubungannya dengan zat yang ditemukan dalam beberapa produk vape ganja mencurigakan.

Tim penyidik medis, bersama Departemen Kesehatan New York, belum lama mempelajari produk vape yang digunakan dalam 34 kasus penyakit paru-paru parah di negara bagian tersebut. Menurut siaran pers , hasilnya mengungkapkan vape berisi ganja cair memiliki kandungan vitamin E yang “sangat tinggi”, sementara zat ini sama sekali tidak ditemukan dalam nikotin cair.

Dilansir Washington Post , pejabat kesehatan mendapatkan fakta dari teleconference nasional dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) bahwa sejumlah besar kasus kematian tadi berkaitan dengan cairan vape yang mengandung vitamin E.

Vitamin E memang aman dikonsumsi dan bagus untuk kulit, tetapi belum bisa dipastikan keamanannya kalau dijadikan cairan vape. Negara bagian New York juga belum menyetujui produk vape yang mengandung vitamin E. Profesor Kimia, Michelle Francl, mengatakan cairan itu sebenarnya minyak yang bisa menjadi sangat panas sebelum menguap. Kepada Post , dia berujar “entah asap apa yang dihirup” setelah terurai.

FDA memberi tahu NPR , mereka butuh informasi lebih banyak sebelum menentukan penyakit misterius ini disebabkan faktor tertentu. Sementara itu, mereka mengimbau pengguna vape untuk lebih berhati-hati, terutama dengan produk tak berlisensi yang banyak dijual di pasar gelap.

Pada 27 Agustus, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat 215 penyakit paru-paru yang kemungkinan disebabkan vape. Banyak dari kasus itu masih diselidiki penyebabnya. Dua kematian di Illinois dan Chicago diperkirakan terkait dengan vape.

“FDA menguji kandungan zat kimia dalam sampel yang diberikan sejumlah negara bagian, termasuk nikotin, THC dan kanabis lainnya beserta pengencer, zat aditif, pestisida, opioid, dan zat beracun. Mereka sama sekali tidak menemukan zat ini, termasuk vitamin E asetat, dalam keseluruhan sampel,” bunyi email penasihat senior FDA Michael Felberbaum kepada NPR pada Kamis.

Departemen Kesehatan New York juga membagikan foto beberapa produk vape yang digunakan pasien. Beberapa wadahnya merupakan buatan Dank Vapes, perusahaan kemasan vape mencurigakan —tak jelas siapa produsen wadah atau cairan yang memasukkannya ke dalam wadah bermerek—sementara merek lainnya adalah Chronic Carts yang berperisa permen.

Remaja 18 tahun dari Illinois, Adam Hergenreder, memberi tahu CBS News sudah dua tahun nge-vape. Semenjak beli vape ganja dari pengedar narkoba, dia jadi mudah demam, sulit bernapas dan muntah-muntah.

Dari ranjang rumah sakit, dia mengaku menyesal beli vape sembarangan. “Saya baru 18 tahun, tapi paru-paruku sudah bangkotan,” tuturnya.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.