Operasi Usus Buntu Saat Hamil, Bisa Saja Kok!
SehatQ.com

17 weeks ago

Operasi Usus Buntu Saat Hamil, Bisa Saja Kok!

Mungkin tak pernah terlintas di benak para ibu hamil ketika harus menjalani operasi di tengah-tengah masa kehamilannya. Namun nyatanya, operasi usus buntu saat hamil adalah hal yang bisa saja terjadi. Setidaknya ada satu dari setiap 1500 ibu yang harus menghadapi operasi usus buntu saat hamil.

Artinya, operasi usus buntu saat hamil bukan konsep yang benar-benar asing atau bahkan tidak masuk akal. Mungkin secara awam, operasi saat perut tengah membuncit – dengan janin hidup di dalamnya – adalah hal yang mustahil. Nyatanya, hal ini bisa saja dilakukan.

Operasi usus buntu saat hamil rentan terjadi

Kasus usus buntu bisa terjadi pada siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, lansia, hingga ibu hamil. Pada ibu hamil, akan sangat baik jika usus buntu ini terdeteksi di trimester awal kehamilan.

Apabila usus buntu baru diketahui pada trimester akhir kehamilan atau sengaja tidak diambil tindakan, besar kemungkinan terjadinya komplikasi. Bahkan, risiko kematian janin meningkat hingga 36 persen.

Gejala yang dirasakan ibu hamil biasanya adalah rasa nyeri di bagian kanan bawah perut. Meski demikian, 70% ibu hamil tidak merasakan gejala signifikan seperti demam. Itu sebabnya, terkadang gejala usus buntu tidak diketahui hingga trimester akhir kehamilan.

Dokter kandungan biasanya akan meminta USG ketika rasa nyeri terus menerus muncul di bagian yang sama. Lagi-lagi, USG sedini mungkin lebih baik ketimbang menundanya hingga akhir kehamilan.

Bagaimana prosedur operasi usus buntu saat hamil?

Apabila tindakan operasi usus buntu saat hamil muda akan diambil, maka metodenya adalah laparoskopi atau operasi lubang kunci. Seperti namanya, prosedur medis ini hanya membuat sayatan kecil dan tipis sepanjang kurang dari 2 cm di dinding perut.

Nantinya, akan ada instrumen halus yang dimasukkan ke dalam sayatan untuk menemukan kelainan seperti usus buntu. Setelah dokter menemukan jaringan usus buntu yang mengalami peradangan, umbai cacing itu akan diikat dan dibuang.

Pascaoperasi ini memerlukan perawatan inap yang lebih singkat dari operasi konvensional. Luka sayatan yang hanya sekitar 2 cm pun bisa sembuh dengan lebih cepat.

Tapi perlu diingat bahwa kondisi seseorang yang tengah hamil berbeda dengan mereka yang dalam kondisi normal. Proses pemulihan pascaoperasi bisa berlangsung lebih lama.

Dokter kandungan akan menyarankan untuk menginap setidaknya satu malam agar bisa beristirahat maksimal. Selain itu, perawatan inap juga bertujuan untuk memantau reaksi janin dan ibu usai operasi.

Namun apabila operasi usus buntu saat hamil dilakukan saat trimester ketiga, sayatan atau insisi haruslah lebih besar karena laparoskopi lebih sukar dilakukan. Terlebih, ukuran uterus yang sudah membesar juga menghambat pergerakan jika mengoperasi dengan metode laparoskopi.

Selain itu, operasi usus buntu saat hamil sudah di atas 24 minggu harus benar-benar memerhatikan kondisi bayi. Jangan sampai terjadi komplikasi karena operasi usus buntu saat hamil besar juga semakin berisiko.

Risiko operasi usus buntu saat hamil

Risiko terjadinya komplikasi ketika menjalani operasi tentu ada, bahkan pada orang yang tidak dalam kondisi hamil sekalipun. Meski demikian, jumlah kasus kematian janin akibat operasi usus buntu saat hamil sangatlah kecil.

Selain itu, risiko melahirkan mendadak saat operasi dilakukan di trimester pertama dialami sekitar 33% ibu hamil. Sementara pada trimester kedua, operasi yang diikuti dengan kelahiran prematur pun hanya sekitar 14 persen.

Angka ini tergolong tidak signifikan dibandingkan dengan kemungkinan yang lebih buruk apabila usus buntu dibiarkan tanpa dioperasi. Semakin lama dibiarkan, ada kemungkinan dinding otot usus jadi semakin tipis dan akhirnya pecah.

Ketika hal ini terjadi, bisa terjadi peradangan dan perlengketan pada membran rongga perut hingga menyebabkan kematian.

Apa yang harus dilakukan pascaoperasi?

Pasca menjalani operasi usus buntu saat hamil bukan berarti tidak bisa melakukan aktivitas lainnya. Terlebih, seorang perempuan biasanya masih aktif dengan rutinitas ketika kehamilan masih berusia beberapa minggu. Contohnya wanita pekerja yang bahkan baru mengambil cuti ketika kehamilan memasuki usia 36 minggu.

Artinya, ketika operasi usus buntu rampung dilakukan, saatnya kembali beraktivitas. Istirahat untuk memastikan tubuh pulih sempurna memang penting. Meski demikian, kembali aktif juga tidak kalah penting.

Semakin cepat kembali beraktivitas, semakin cepat proses pemulihan. Hal ini sekaligus menekan risiko komplikasi yang mungkin terjadi.

Namun, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, hindari membawa barang terlalu berat. Kedua, pastikan asupan nutrisi tetap mencukupi bagi ibu dan janin. Ketiga, konsultasikan kondisi tubuh kepada dokter kandungan agar kemungkinan komplikasi sekecil apapun dapat dideteksi sejak dini.

Tapi ingat, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda. Sebelum mengambil keputusan untuk menjalani tindakan operasi usus buntu saat hamil, konsultasikan kepada dokter kandungan yang tahu betul riwayat kesehatan Anda.