Resistensi Antibiotik, Saat Minum Obat Justru Bikin Penyakit
SehatQ.com

1 week ago

Resistensi Antibiotik, Saat Minum Obat Justru Bikin Penyakit

Minum obat antibiotik saat sakit memang bisa membantu meredakan keluhan. Tapi, jika obat tidak diminum sesuai anjuran, akan muncul suatu kondisi yang dinamakan resistensi antibiotik. Pada kasus yang parah, resistensi antibiotik bahkan bisa menimbulkan kematian.

Di Indonesia sendiri, aturan minum antibiotik belum banyak menjadi perhatian. Berdasarkan riset Kementerian Kesehatan RI pada 2013, ada sekitar 10% masyarakat yang masih menyimpan antibiotik di rumah.

Masih dari hasil riset yang sama, sekitar 86% masyarakat bisa membeli antibiotik tanpa resep dokter. Hal tersebut tentu mengkhawatirkan, mengingat bahaya resistensi antibiotik yang bisa mengancam nyawa.

Apa itu resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik adalah kondisi saat bakteri penyebab penyakit telah kebal terhadap bahan-bahan yang terdapat pada obat antibiotik. Hal ini membuat bakteri tersebut semakin sulit dibasmi dan terus tumbuh, menyebabkan penyakit jadi semakin sulit untuk disembuhkan.

Aturan minum antibiotik sebenarnya cukup jelas. Pembeliannya harus melalui resep dokter dan harus dihabiskan. Pembelian melalui resep dokter, berguna untuk membatasi konsumsi antibiotik secara berlebihan. Sementara itu, instruksi harus dihabiskan berguna agar pengobatan berhasil membasmi bakteri penyebab penyakit hingga tuntas.

Saat Anda tidak mengikuti kedua aturan tersebut, maka bakteri justru akan semakin kuat. Bakteri penyebab penyakit adalah mikroorganisme yang bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Semakin sering bakteri terpapar antibiotik, maka lama-kelamaan ia akan mempelajari cara untuk bertahan hidup dari serangan antibiotik itu sendiri.

Selain itu, jika Anda tidak menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter, maka bakteri yang tersisa juga akan bertahan dan belajar untuk menghindari komponen antibiotik tersebut.

Akibatnya, jika di kemudian hari Anda kembali menderita penyakit serupa dan mendapatkan obat yang sama, bakteri sudah berevolusi dan mengerti cara untuk bertahan hidup dari obat tersebut. Sehingga, Anda akan semakin sulit untuk sembuh.

Menilik lebih jauh bahaya resistensi antibiotik

Antibiotik hanya dibutuhkan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Sejauh ini, dunia kedokteran masih sangat membutuhkan peran antibiotik dalam menangani infeksi bakteri serius, seperti pneumonia dan sepsis.

Sepsis adalah kondisi infeksi yang sudah menyebar ke dalam aliran darah yang menyebabkan peradangan di seluruh tubuh, dan membuat cara kerja organ-organ vital menjadi terganggu. Kondisi ini adalah suatu kegawatdaruratan medis dan bisa menyebabkan kematian.

Bayangkan, jika seseorang sudah dalam kondisi sepsis, dan bakteri yang ada di tubuh mengalami resistensi antibiotik. Bakteri tersebut akan terus menggerorgoti tubuh, hingga tubuh sudah tidak mampu lagi melawannya.

Saat ini, sudah terdapat beberapa bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Bakteri-bakteri ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Berikut ini jenis-jenis bakteri yang dimaksud.

• Clostridium difficile ( C. diff )

Saat tumbuh secara berlebihan di tubuh, bakteri ini akan menyebabkan infeksi di usus besar dan usus kecil . Infeksi bakteri ini umumnya muncul setelah seseorang dirawat dengan beberapa jenis antibiotik untuk jenis infeksi bakteri yang berbeda.

Bakteri C.diff sendiri, secara alami memang kebal atau resisten terhadap banyak jenis antibiotik.

• Vancomycin-resistant enterococcus (VRE)

Bakteri jenis ini umumnya menginfeksi aliran darah, saluran kemih, atau bekas luka operasi. Infeksi ini lebih banyak terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit.

Pemberian antibiotik vancomycin sebenarnya bisa dilakukan sebagai perawatan untuk infeksi enterocci. Namun, VRE sudah resisten terhadap jenis obat ini.

• Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA)

Jenis infeksi ini sudah kebal terhadap pemberian antibiotik tradisional yang biasa digunakan untuk infeksi bakteri staphilococcus . Infeksi MRSA umumnya menyerang kulit, dan paling sering terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit, serta orang yang sistem imunnya lemah.

• Carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE)

Bakteri jenis ini sudah kebal terhadap banyak jenis antibiotik. Infeksi CRE umumnya terjadi pada orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit, dan menggunakan alat ventilator mekanis atau pemasangan kateter.

Perhatikan aturan minum antibiotik yang tepat

Anda perlu memperhatikan aturan minum antibiotik yang tepat, agar terhindar dari dampak resistensi antibiotik. Berikut ini langkah yang bisa Anda ikuti.

• Hanya gunakan antibiotik untuk infeksi bakteri

Antibiotik adalah obat yang hanya efektif untuk meredakan, atau mencegah infeksi akibat bakteri. Sehingga, jika penyakit yang Anda derita disebabkan oleh virus, penggunaan antibiotik tidaklah efektif.

Beberapa kondisi umum yang disebabkan oleh virus di antaranya adalah flu, batuk, atau sakit tenggorokan.

• Minum antibiotik sesuai anjuran dokter

Tidak mengikuti anjuran dokter saat minum antibiotik seperti mengonsumsinya terlalu berlebihan, tidak diminum secara teratur, atau tidak menghabiskan antibiotik, bisa memicu bakteri menjadi resisten.

Selalu selesaikan penggunaan antibiotik hingga habis, meski Anda sudah merasa baikan. Apabila antibiotik yang diminum menimbulkan alergi , segera hubungi dokter yang meresepkannya, agar jenis antibiotik dapat diganti dengan yang lebih sesuai.

• Pastikan jenis antibiotik tepat untuk kondisi Anda

Jangan pernah minum obat antibiotik yang diresepkan untuk orang lain. Jenis obat antibitoik sangat beragam, dan masing-masingnya diperuntukkan untuk kondisi yang berbeda. Belum tentu jenis antibiotik yang cocok untuk orang lain, cocok untuk Anda meski diagnosis penyakitnya sama.

Apabila di rumah ada obat antibiotik sisa dari perawatan sebelumnya yang tidak Anda selesaikan, jangan menggunakannya kembali. Menggunakan antibiotik sisa, berarti Anda mengonsumsi antibiotik tidak dalam dosis yang diresepkan.

Resistensi antibiotik adalah kondisi serius yang perlu diwaspadai. Setelah mengetahui bahaya penggunaan antibiotik yang tidak tepat, Anda diharapkan dapat menerapkan aturan minum antibiotik sesusai anjuran dokter. Jangan sampai, usaha Anda untuk sembuh justru menjadi bumerang di kemudian hari.