Jembatan Cinta, Raja Tidung, dan Misteri Panglima Hitam
Beritasatu.com

1 week ago

Jembatan Cinta, Raja Tidung, dan Misteri Panglima Hitam

RONA memerah matahari pagi perlahan menyinari lautan luas Pulau Tidung hingga memantulkan kilauan emas. Sinarnya seolah meningkahi warna merah muda Jembatan Cinta sepanjang 800 meter penghubung Pulau Tidung dan Pulau Tidung Kecil.

Sayang, suasana romantis ikon wisata di Kepulauan Seribu pada pagi itu kurang lengkap tanpa sepasang kekasih yang memadu cinta. Kendati demikian, pulau ini tetap bersolek. Warga menyapu halaman rumah dan jalanan sepanjang pantai. Para nelayan memanaskan mesin perahunya, sementara puluhan pengemudi becak motor berdatangan ke pelabuhan menjemput pendatang.

Pulau seluas 54 hektare ini adalah yang terluas di Kepulauan Seribu yang berlokasi di bagian barat dan dihuni 4.900 jiwa penduduk. Dari Jakarta, jarak tempuh sekitar tiga jam berlayar dari Muara Angke dengan kapal penumpang, dan sejam dengan KM Express Bahari dari Marina, Ancol. Begitu mendekat Pulau Tidung, Jembatan Cinta itulah yang terlihat mencolok.

Naik becak motor dari Pelabuhan Pulau Tidung menuju gerbang Jembatan Cinta yang terpaut jarak 12 kilometer hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Melintasi jalanan bersusun batako selebar tiga meter yang diapit rumah penduduk dan penginapan.

Begitu sampai, langsung disambut angin laut sepoi-sepoi menerpa dedaunan yang menghiasi pantai yang indah. Beranjak ke Jembatan Cinta dan menapaki lantainya langsung memandang ikan-ikan kecil berenang lincah meningkahi terumbu karang yang indah.

Ramai wisatawan memanfaatkan satu bagian jembatan yang tingginya sampai delapan meter untuk menceburkan diri ke laut yang jernih dan tenang ini. Apalagi jembatan yang dibangun pada 2005 ini telah dibumbui mitos, yakni jika meloncat dari sini dipercaya akan menemukan cinta sejati.

Mulanya, jembatan penghubung ini berbentuk apung berbahan kayu dengan drum di bawahnya yang diikat tali besa berbentuk garis lurus. Namun, hanya bertahan beberapa bulan, talinya putus dan drumnya hanyut. Pada 2008, jembatan ini kembali dibangun dengan kayu tancap. Lagi-lagi ambruk.

Dua tahun berselang, jembatan ini kembali dibangun dengan tiang tancap dari beton, tetapi lantainya tetap kayu. Sayang, kayunya tak berkualitas, sehingga cepat keropos. Pada 2012, jembatan ini direnovasi dengan lantai beton yang diperkirakan bertahan sampai 15 tahun ke depan.

Kisah Raja Pandhita

Jembatan Cinta bukanlah satu-satunya pesona yang memikat dari Pulau Tidung. Jika bosan dengan keindahan alam di tengah terik matahari yang menghujam lautan dan pantainya, bisa juga berkeliling mencari tahu jejak-jejak sejarah di sini.

Salah satu cerita yang cukup menggoda tentang nama Pulau Tidung yang ternyata mirip dengan nama Suku Tidung di Malinau, Kalimantan Utara. Jejak sejarah ini terekam di sebelah selatan Pulau Tidung. Tepatnya di kompleks pemakaman bernama “Makam Raja Tidung XIII, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara di Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta”.

Juru kunci makam ini bernama Muhammad Nafsir. Bahkan, ia adalah keturunan Raja Tidung.

“Saya adalah generasi kelima raja Tidung,” kata lelaki berusia 62 tahun ini memulai ceritanya tentang kisah raja Tidung ini.

“Dari nama suku itulah nama pulau ini diambil. Sebagian dari kami di sini adalah keturunannya yang beranak pinak di sini,” kata kakek empat cucu ini lagi.

Menurut buku The Hidden Treasury of the Thousand Islands , Raja Tidung yang makamnya ada di Pulau Tidung itu adalah seorang raja yang bernama Muhammad Sapu yang dinobatkan sebagai raja pada 1853 dengan gelar Panembahan Raja Pandhita. Ketika ia memerintah, pusat kerajaan sudah berpindah dari Kuala Malinau ke Kuala Kabiran.

Raja Pandhita juga dikenal sangat menentang kolonial Belanda. Itulah sebabnya, ia dibuang ke Jepara. Ternyata di Jepara, Raja Pandhita bergabung dengan raja Jepara melawan Belanda. Di Jepara ia diberi gelar Sekaca. Ia ditangkap lagi dan menjadi tawanan Belanda. Terakhir bersama dua pengawalnya ia dibuang ke Kepulauan Seribu pada 1892.

Hingga wafatnya pada 1898, masyarakat pulau tak pernah tahu ia adalah seorang raja. Sebab, Raja Pandhita di sini memperkenalkan dirinya sebagai Muhammad Kaca. Seorang pria yang rajin menolong sesama. Kebaikan itulah yang dikenang di masa itu. Bahkan, ia pula yang memberi nama Pulau Tidung.

Rupanya pemberian nama Pulau Tidung itu sekaligus sebagai penanda jejaknya. Karena nama itulah, masyarakat Malinau tertarik melakukan penelitian asal mula Pulau Tidung pada 2011, hingga kemudian ditemukan benang merah dengan Kerajaan Tidung.

“Penelitian itu dilakukan atas inisiatif lembaga adat, dan telah dilakukan selama empat tahun,” kata Sekretaris Lembaga Adat Besar Tidung Kaltim sebagaimana tertulis dalam buku itu.

Misteri Panglima Hitam

Suasana terik sinar matahari yang menghujam ke ubun-ubun ternyata tak mengurangi minat wisatawan berseliweran di sekitar Jembatan Cinta. Sebagian riang menaiki banana boat yang berputar-putar dekat jembatan. Selebihnya bersantai di sejumlah gazebo yang tersebar di dekat pantai.

Namun, di seberang jembatan, yaitu di Pulau Tidung Kecil, ada apa gerangan? Ternyata bukan saja jalan setapak melintasi taman mangrove dan ilalang serta pantai pasir putih yang kesepian, di sana ada makam berwarna merah yang di batu nisannya bertuliskan “Panglima Hitam”.

Jejak Panglima Hitam tak begitu terang seperti raja Tidung. Bahkan hingga kini belum diketahui siapa nama sang Panglima Hitam. Kisahnya pun hanya beredar dari mulut ke mulut, dan nyaris hanya menjadi mitos. “Saya tidak begitu tahu asalnya,” kata Muhammad Nafsir, cicit Raja Tidung.

Bahkan kisah Panglima Hitam yang tertera dalam buku The Hidden Treasury of the Thousand Islands juga tak menyajikan alur cerita yang realistis. Sampai saat ini belum ada bukti sejarah yang menunjukkan secara pasti siapa Panglima Hitam ini.

Buku ini hanya mengutip kisah-kisah yang beredar di masyarakat setempat dengan berbagai versi, di antaranya cerita dari sesepuh Pulau Tidung, Djafar Arsy, yang dipercaya keturunan Panglima Hitam. Djafar mengatakan Panglima Hitam itu bernama Wa’turup yang berasal dari Sulawesi dan menjadi bangsawan dari Selangor, Malaysia.

Kisah lainnya menyebutkan, Panglima Hitam adalah seorang pendekar yang bergelar Ratu Pendekar Badui. Disebutkan pendekar Badui ini mengungsi ke Pulau Tidung untuk menghindari kejaran Syekh Maulana Malik Ibrahim. Namun, tak dijelaskan siapa Syekh Maulana Malik Ibrahim ini.

Jika merujuk catatan sejarah, maka Maulana Malik Ibrahim tak lain adalah Sunan Gresik. Hidup di abad ke-14, ia adalah Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Makamnya ada di desa Gapurosukolilo, Gresik.

Anehnya, di Pulau Tidung Kecil juga ada makam yang disebut-sebut sebagai pusaranya Syekh Maulana Malik Ibrahim. Bahkan ada enam makam syekh lainnya. Ramai orang datang beziarah ke makam-makam ini. Khusus ke makam Panglima Hitam, peziarah datang pada malam Jumat Kliwon.

Mitos Cinta Sejati

Kembali ke Jembatan Cinta. Hari menjelang sore. Keindahan saat matahari terbenam tak kalah indahnya dibanding matahari terbit. Di jembatan ini memang bisa menikmati matahari yang telanjang menabur cahaya yang berubah warna dari kemerahan saat terbit di pagi hari, dan terang benderang di siang hari, dan meredup keemasan di sore hari.

Namun, kisah cinta seperti apa sebetulnya yang ada di Jembatan Cinta ini? Tentu kisah cinta sejati di sini sulit dicari. Lagi-lagi hanya ada mitos di awal-awal jembatan ini dibangun. Konon di masa itu hanya ada dua penginapan di Pulau Tidung, yaitu Lima Saudara untuk penginapan pria dan Sudimampir untuk wanita.

Dikisahkan, suatu hari terjalin asmara antara dua sejoli yang menginap di dua penginapan yang berbeda itu. Mereka memadu kasih di jembatan itu setiap hari, hingga kemudian mengikat tali perkawinan. Konon, dari kisah sederhana inilah lahirnya nama Jembatan Cinta.

Terlepas dari kisah itu, Jembatan Cinta tetaplah romantis dan indah. Cerita cinta itu laksana bumbu penajam bagi suasana hati semata. Selebihnya adalah pesona alam yang menebarkan cintanya di sini.

Sumber: BeritaSatu.com