Apa Saja Gejala Multiple Sclerosis Selain Tulang Belakang yang Sakit?
SehatQ.com

1 week ago

Apa Saja Gejala Multiple Sclerosis Selain Tulang Belakang yang Sakit?

Tulang belakang sakit adalah salah satu keluhan yang dianggap remeh dan disangka sebagai penyakit tulang belakang biasa, tetapi bisa jadi tulang belakang sakit adalah salah satu pertanda dari multiple sclerosis .

Multiple sclerosis adalah penyakit autoimun atau saraf yang mungkin belum dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat. Penyakit ini umumnya memiliki berbagai gejala dan muncul berbeda-beda pada setiap orang.

Umumnya, gejala autoimun multiple sclerosis berdampak pada bagian pergerakan. Namun, ada gejala lain yang sering diabaikan, salah satunya adalah tulang belakang sakit.

Oleh karenanya, Anda perlu untuk mengetahui apa-apa saja gejala autoimun multiple sclerosis yang bisa terjadi, karena tulang belakang sakit bisa jadi salah satu pertanda dari multiple sclerosis .

Apa saja gejala  multiple sclerosis ?

Multiple sclerosis merupakan salah satu jenis dari penyakit autoimun yang menyerang bagian lapisan pelindung saraf atau lapisan mielin. Penyakit autoimun adalah suatu gangguan yang terjadi saat sistem imun menyerang bagian dari tubuh yang dianggap sebagai ancaman.

Penyakit multiple sclerosis mungkin sering tidak disadari sampai akhirnya menimbulkan gejala yang lebih parah. Berikut adalah beberapa gejala dari multiple sclerosis yang mungkin tidak disadari:

Rasa sakit

Rasa sakit merupakan salah satu gejala multiple sclerosis yang umum dirasakan oleh penderita. Hampir sebagian besar penderita multiple sclerosis mengalami nyeri pada daerah tubuh tertentu.

Rasa sakit biasanya dirasakan di bagian paha, tetapi tulang belakang sakit juga bisa terjadi pada penderita. Tulang belakang sakit termanifestasi dalam bentuk rasa nyeri yang kuat dan singkat yang menjalar di sepanjang tulang belakang.

Rasa sakit juga bisa terjadi karena kekakuan dan kejang otot yang merupakan gangguan lain yang bisa dialami oleh penderita. Rasa sakit ini mudah untuk diabaikan dan dianggap sebagai penyakit tulang belakang saja.

Oleh karenanya, jika Anda mengalami rasa sakit yang terjadi secara terus-menerus pada satu atau lebih bagian tubuh, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam atau dokter spesialis saraf.

Disfungsi seksual

Multiple sclerosis menyerang bagian sistem saraf pusat dan bisa menimbulkan gangguan saat berhubungan seksual, yaitu masalah pada gairah seksual hingga menyebabkan disfungsi seksual.

Masalah kognitif

Tidak hanya secara fisik, tetapi multiple sclerosis juga bisa berdampak pada kemampuan mental penderita. Serupa dengan gejala rasa sakit, gejala masalah kognitif juga dialami oleh sebagian penderita multiple sclerosis .

Beberapa masalah kognitif yang dapat dialami adalah gangguan berbahasa, masalah pada daya ingat, susah untuk tetap menjadi teratur, dan kesulitan untuk fokus. Gejala ini cenderung tidak terlalu diperhatikan dan diabaikan begitu saja.

Gejala kesemutan dan kebas

Gejala kesemutan dan kebas timbul saat tidak ada sinyal yang diterima oleh tubuh dari otak. Hal ini karena multiple sclerosis mengganggu sinyal komunikasi antar anggota tubuh.

Gejala kesemutan atau sensasi menggelitik adalah salah satu gejala umum yang sering diabaikan. Biasanya, gejala kesemutan muncul di daerah wajah, paha, jari, dan lengan.

Kelelahan dan lemas

Rasa lelah dan lemas dapat disalahartikan sebagai gejala kurang tidur, padahal kelelahan dan rasa lemas dapat menjadi salah satu gejala dari multiple sclerosis karena kerusakan saraf di tulang belakang.

Penderita akan merasa mudah lelah dan terkadang masih merasa lelah meskipun sudah tidur cukup.

Masalah penglihatan

Sering mengalami penglihatan yang mengabur ataupun melihat secara berbayang? Bisa jadi hal tersebut diakibatkan oleh multiple sclerosis . Masalah penglihatan tersebut muncul secara perlahan dan terkadang tidak disadari oleh penderita.

Perubahan kepribadian

Kepribadian yang berubah bisa jadi indikasi suatu penyakit tertentu! Salah satunya adalah penyakit multiple sclerosis yang bisa memicu depresi, pergantian suasana hati, dan sebagainya.

Gangguan keseimbangan

Gangguan keseimbangan dan rasa pusing kerap dialami oleh penderita multiple sclerosis . Penderita akan sulit mengatur koordinasi tubuhnya dan rasa pusing bisa muncul saat penderita ingin berdiri.

Masalah saat buang air kecil

Masalah ketika buang air kecil dapat menjadi salah satu sinyal dari multiple sclerosis . Penderita akan sering buang air kecil, kesulitan untuk buang air kecil, ataupun merasakan keinginan yang mendesak untuk buang air kecil.

Namun, masalah saat buang air besar, seperti diare, kesulitan menahan buang air besar, atau sembelit jarang terjadi pada penderita multiple sclerosis .

Bagaimana multiple sclerosis dideteksi?

Deteksi dini multiple sclerosis dapat dilakukan dengan menyadari gejala-gejala yang sering diabaikan dan mengkonsultasikannya ke dokter penyakit dalam ataupun dokter spesialis saraf untuk dilakukan pemeriksaan.

Meskipun demikian, tidak ada tes yang secara spesifik mampu mendeteksi multiple sclerosis . Pemeriksaan multiple sclerosis dilakukan dengan mengeliminasi kemungkinan penyebab gejala yang dialami.

Dokter penyakit dalam atau dokter spesialis saraf akan melaksanakan berbagai pemeriksaan, seperti pemeriksaan fisik, tes darah, tes MRI, mengambil sampel cairan dari tulang belakang, dan sebagainya.

Pola hidup penderita multiple sclerosis

Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh penyakit multiple sclerosis sangat mengganggu dan karenanya penerapan gaya hidup yang sehat akan berdampak baik bagi penderita. Gaya hidup yang dapat diterapkan oleh penderita adalah:

• Melakukan olahraga yang ringan dan rutin untuk menjaga kesehatan fisik ataupun melakukan aktivitas-aktivitas fisik, seperti memasak, dan sebagainya

• Tidak mengabaikan obat-obatan yang diberikan dokter dan mengonsumsi sesuai dengan instruksi yang diberikan

• Bersosialisasi dan meminta dukungan dari teman dan kerabat

• Tidak mengonsumsi alkohol dan berhenti merokok

• Mengonsumsi makanan yang tinggi serat, bergizi imbang, dan rendah lemak

• Melakukan aktivitas yang memacu kinerja otak, seperti menulis, bermain teka-teki silang, membaca, dan sebagainya

Namun, yang paling penting dari semuanya adalah selalu berkonsultasi dan berdiskusi mengenai kondisi Anda dengan dokter penyakit dalam ataupun dokter spesialis saraf yang dikunjungi.