Marcello Tahitoe menyalak dalam album Antistatis
Beritagar.id

1 week ago

Marcello Tahitoe menyalak dalam album Antistatis

Kesan sebagai pelantun tembang-tembang mendayu ditanggalkan total oleh Marcello Tahitoe dalam album terbarunya, Antistatis , yang dirilis oleh label Sony Music Indonesia.

Tiada lagi wujud penyanyi yang melantunkan lagu cinta seperti “Pergi Untuk Kembali” atau “Kisah Kita T'lah Usai” lebih dari satu dekade silam.

Melalui album terbarunya yang berisi sembilan lagu, solis berusia (36) itu justru menonjolkan aransemen rock alternatif. Corak musik yang menuai kejayaan sepanjang dekade 90an. Distorsi gitar tebal mengiringi suara Cello yang seolah sedang menyalak di depan mikrofon. Menghantam telinga.

Inilah saatnya tenggelam bersama. Hanyut terbawa arus yang kencang. Bising pecah, hantam telinga ,” pekiknya dalam lagu “Hanyut” yang ditempatkan sebagai lagu pembuka album ini.

Bagi para penikmat musik band-band pengusung Seattle sound alias grunge , semisal Soundgarden, Nirvana, atau Pearl Jam, apa yang disajikan Cello ini sungguh romantisme tak terkira.

Pasalnya ramuan musik seperti ini anomali dengan tren yang sedang terjadi di industri musik pop tanah air beberapa tahun belakangan.

Tentu saja tak mudah mendobrak posisi nyaman yang saat ini boleh dibilang menjadi milik para pengusung electronic / dance , pop, hip-hop / R&B , dan folk .

Cello terang mengetahui tren tersebut. Pun demikian menanggapinya masa bodoh belaka.

"Sekarang, gue tahu (lagu-lagu baru gue ) ini enggak bakal diputerin . Seyakin itu, karena sekarang media radio atau televisi arahnya lagi enggak ke sana, lagi enggak ke distorsi. Jadi, gue lebih fokus ke penggemar gue . Setidaknya gue mengeluarkan apa, fans gue menyanyi," tutur Cello saat diwawancarai

Kumparan

(13/8/2019).

Alasannya memilih Antistatis sebagai judul album solo kelimanya ini juga berangkat dari keinginan mendobrak kemapanan. Beranjak keluar dari zona nyaman.

“Kita bertumbuh, berkembang, dan berevolusi seiring berjalannya waktu, baik tubuh, pikiran, jiwa, dan spiritual. Tidak ada yang kekal selain perubahan. Tidak ada yang pasti selain antistatis,” lanjut Cello dalam siaran pers.

Selain itu, menyitir hot.detik.com (10/7), Antistatis mewakili keinginan untuk terus maju dan tidak berjalan di tempat. Bahwa hidup harus terus berlanjut. Saat menjalaninya tidak boleh statis. Harus selalu melakukan progres. "Enggak bisa lo cuma diem terus," terangnya.

Cello mendapat sokongan dari Enos Martyn (bassis), Arden Wibowo (gitaris), dan Robby Wahyuda (drummer) untuk merampungkan album ini. Rekamannya berlangsung di studio rumah Cello di kawasan Kayu Putih, Jakarta Timur.

Prosesnya berlangsung cukup cepat dan sederhana dengan penggunaan instrumen yang tergolong mendasar dan organik.

Berbeda dengan album Jalur Alternatif (2015) yang juga sudah menyembulkan aroma rock alternatif, kali ini tidak ada penggunaan synthesizer .

“Sepertinya gue sedang berada pada tahap di mana gue menemukan formula yang nyaman dan pas untuk menulis lagu. Simpel, raw , dan spontan,” jelasnya.

Perihal lirik, Cello mengambil dari apa yang dirasakannya serta isu-isu sosial yang terjadi belakangan. Sebutlah misal isi lirik lagu “Sampah-sampah Dunia Maya” yang menyoroti para penyebar hoax di media sosial.

Intinya Cello ingin mengatakan bahwa album Antistatis diproduksi tanpa tendensi apa pun. Juga tanpa harus mematuhi kepentingan apa pun.

"Album ini murni atas nama kecintaan saya terhadap musik rock dan menunjukkan diri saya yang autentik," pungkasnya .

]]>