1 Triliun pohon untuk memerangi perubahan iklim
Beritagar.id

1 week ago

1 Triliun pohon untuk memerangi perubahan iklim

Sejak lama para ilmuwan telah paham, solusi terbaik untuk mengatasi perubahan iklim adalah dengan memulihkan kembali hutang-hutan gundul di penjuru bumi. Pertanyaan terbesar yang belum terjawab adalah "Bagaimana caranya?"

Lewat sebuah penelitian, Dr. Jean-Francois Bastin menemukan jawabannya. Time melaporkan, Dr. Bastin menghitung berapa banyak pohon yang dapat ditampung Bumi, seumpama ada program penanaman kembali secara global.

Penelitian Dr. Bastin juga menentukan di mana sebaiknya pohon-pohon baru ini ditanam, serta berapa banyak karbon dioksida yang bisa mereka serap.

Penelitian ini menemukan ada potensi untuk meningkatkan lahan hutan dunia hingga sepertiga, tanpa memengaruhi kota-kota atau pertanian di dalamnya. Terungkap juga bahwa menanam kembali pohon hingga menyelimuti area seluas Amerika Serikat (AS) adalah hal yang memungkinkan.

Dr. Bastin dan tim juga menyajikan penilaian kuantitatif pertama tentang kelayakan target restorasi hutan global.

Kabar baiknya, begitu pohon-pohon baru ini tumbuh besar, hutan-hutan baru tersebut bisa menyimpan 205 miliar ton CO, atau lebih dari dua pertiga dari 300 miliar ton CO2 tambahan yang ada di atmosfer sebagai akibat aktivitas manusia sejak era revolusi industri.

Penelitian ini juga menunjukkan potensi yang ada untuk menumbuhkan pohon di lahan pertanian dan daerah perkotaan. Ini membuka ruang untuk memperluas lingkup agroforestri dan pepohonan kota. Karena itu lah, cara ini dianggap berperan signifikan dalam memerangi perubahan iklim.

Masalahnya, penelitian ini merekomendasikan aksi sesegera mungkin.

Profesor Tom Crowther , penulis senior penelitian dan pendiri Crowther Lab mengatakan, reforestasi memang berperan dalam mengatasi perubahan iklim. Tetapi para ilmuwan belum punya pemahaman ilmiah tentang dampak apa yang dapat terjadi.

"Studi kami menunjukkan dengan jelas bahwa restorasi hutan adalah solusi perubahan iklim terbaik yang ada saat ini, dan memberikan bukti kuat untuk membenarkan investasi untuk itu. Jika kita bertindak sekarang, ini bisa mengurangi karbon dioksida di atmosfer hingga 25 persen, kembali ke level yang sama seperti hampir seabad lalu."

Di sisi lain, Crowther menyatakan, perlu waktu beberapa dekade sampai hutan baru bisa tumbuh dan mencapai potensi ini. Oleh karena itu kata Crowther, penting untuk dipahami, "orang-orang perlu melindungi hutan yang ada saat ini, mengejar solusi iklim lain, dan terus menghapus bahan bakar fosil dari ekonomi kita untuk menghindari perubahan iklim yang berbahaya."

Saat ini terdapat 5,5 miliar hektare hutan dengan total 2,8 miliar hektare yang diselimuti pepohonan. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mendefinisikan hutan sebagai tanah dengan setidaknya 10 tutupan pohon tanpa aktivitas manusia.

Lab Crowther menemukan, hutan mungkin bisa kembali diwujudkan di atas lahan seluas 1,7 miliar hingga 1,8 miliar hektare di daerah rendah aktivitas manusia yang saat ini tidak digunakan sebagai lahan perkotaan atau pertanian. Praktik ini akan memperluas 'selimut pohon' hingga hampir 1 triliun hektare--tepatnya 0,9 miliar hektare.

Secara alami, area-area ini bukan berupa padang rumput atau lahan basah, tetapi ekosistem terdegradasi yang bisa mendukung beberapa tingkat selimut pohon secara alami.

Penelitian ini menemukan, jika lahan pertanian dan daerah perkotaan ikut dihitung, hutan bisa ditumbuhkan kembali pada 1,4 miliar hektare lahan tambahan. Artinya menambah 0,7 miliar hektare selimut pohon.

"Studi kami menyajikan tolok ukur untuk rencana aksi global, menunjukkan di mana hutan baru bisa dipulihkan di seluruh dunia," kata Dr. Bastin. Tegasnya, "Aksi ini urgen dan pemerintah sekarang harus memasukkan ini ke dalam strategi nasional mereka untuk mengatasi perubahan iklim."

Menurut penelitian Dr. Bastin, lebih dari setengah potensi untuk memulihkan hutan ditemukan hanya di enam negara: Rusia (151 juta hektare); AS (103 juta hektare); Kanada (78 juta hektare); Australia (58 juta hektare); Brasil (50 juta hektare); dan Tiongkok (40 juta hektare).

Christiana Figueres , mantan sekretaris eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang tidak terlibat dalam penelitian menyatakan, studi ini adalah cetak biru yang sangat penting bagi pemerintah dan sektor swasta.

Di sisi lain, ada juga yang menanggapinya dengan skeptis. Menganggap kalkulasi Crowther dan tim tak akurat.

Faktanya, pada 1492, efek reforestasi besar-besaran sudah memperlihatkan efeknya. Kala itu populasi penduduk asli Amerika berkurang 90 persen.

Lahan pertanian luas yang tak terawat ditumbuhi pepohonan dan vegetasi baru lain. Kondisi ini menyerap begitu banyak karbon dioksida dari atmosfer hingga mampu menurunkan suhu rata-rata Bumi hingga 0,15 Celcius pada akhir tahun 1500-an hingga awal 1600.

]]>

}