Pornografi Tetap Hidup dan Baik-Baik Saja di Semesta Twitter
Tirto.id

14 weeks ago

Pornografi Tetap Hidup dan Baik-Baik Saja di Semesta Twitter

Perang terhadap pornografi di internet tak kunjung usai. Padahal, di 2018 lalu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) rajin melakukan aksi blokir, termasuk pada pemain-pemain besar. Pada bulan Maret 2018, misalnya, Kominfo resmi memblokir Tumblr. Lantas, empat bulan berselang, giliran TikTok yang bernasib serupa.

Selain diperangi pemerintah, pornografi pun diperangi para pemilik platform. Google, misalnya, memiliki fitur bernama SafeSearch guna membendung kata kunci berbau mesum menghasilkan hasil pencarian yang relevan. Pada Agustus tahun lalu, fitur ini secara aktif bagi seluruh pengguna internet Indonesia.

Lalu, ada pula Facebook. Media sosial sejuta umat ini, sejak Maret 2019, mempekerjakan artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi, sebagaimana diwartakan CNET , “foto atau video telanjang yang dibagikan tanpa persetujuan di Facebook dan Instagram.”

Kerja Facebook memerangi pornografi itu merupakan perluasan dari apa yang mereka lakukan pada Oktober 2018. Kala itu, untuk membendung pornografi anak berkembang biak d Facebook, Facebook menciptakan machine learning khusus.

Sayangnya, meskipun telah dicekik pemerintah melalui aksi blokir, juga oleh pemilik platform dengan segala fiturnya, pornografi tak enyah dari dunia internet, khususnya media sosial. Dan setelah sukar berkembang di Tumblr dan sulit ditemukan di Google, pornografi kini berpusat pada Twitter. Microblogging yang didirikan Jack Dorsey dan Evan Willian pada 2006 silam ini masih menjadi tempat terbaik konten mesum bertempat.

Mencari konten pornografi di Twitter bukanlah hal yang sukar dilakukan. Kuncinya ada di kolom pencarian. Dari kolom itu, pengguna tinggal memasukkan kata-kata mesum nan cabul apa pun. Twitter memang tidak memblokir penggunaan kata-kata mesum dan cabul di sistem pencariannya.

Dari kata mesum yang diketikkan, Twitter lantas memberi hasil pencarian berupa konten-konten pornografi di platformnya. Beberapa bahkan menampilkan video mesum berdurasi sekitar 2 menit. Dan dari hasil pencarian yang diberikan Twitter pula, pengguna dapat diarahkan pada pengguna Twitter yang saban hari mengunggah konten pornografi, misalnya @vcrscx hingga @penggila_jilbob.

Pada akun-akun penyebar konten cabul itu, Twitter hanya memberikan peringatan “Caution: This profile may include potentially sensitive content” yang mudah dilewati. Video pendek pornografi, baik dari cuplikan video porno profesional seperti dari Pornhub ataupun video porno balas dendam, dapat ditemukan pada akun-akun cabul di Twitter.

Dari akun-akun mesum ini, pengguna dapat memperoleh informasi dari penyebar konten mesum lainnya di jagat Twitter, karena Twitter menerapkan konsep “rekomendasi sejenis.” Yang mengherankan, segala konten pornografi yang ada di Twitter dapat diakses tanpa virtual private network (VPN) ataupun harus meregistrasi diri di Twitter.

Cipluk Carlita, Twitter Head of Communications Indonesia, Thailand, Philippines, tak merespon ketika dimintai konfirmasi terkait terpaparnya Twitter oleh pornografi.

Sedikit, tapi Berpengaruh

Dalam berkehidupan, manusia memiliki sistem bernama jaringan sosial. Jaringan sosial ialah sistem yang merekatkan orang-orang dengan melalui topik relevan tertentu. Dalam jaringan sosial, tak hanya ada topik-topik yang beradab, tetapi juga menyimpang. Contohnya adalah topik terkait kekerasan atau pornografi yang pada akhirnya menciptakan “ deviant network ” atau “jaringan menyimpang.”

Mauro Coletto, dalam dalam papernya berjudul “Pornography Consumption in Social Media” (2016), menyebut bahwa media sosial memudahkan orang-orang membentuk jaringan menyimpang. Salah satu topik populernya ialah pornografi. Temuannya, 0,8 persen dari seluruh pengguna Tumblr dan 1,1 persen pengguna Flickr masuk dalam jaringan menyimpang yang disatukan pornografi.

Coletto menyebut konten-konten pornografi di media sosial diramaikan oleh pengguna yang ia sebut “produser,” sosok pengguna yang secara aktif mengunggah konten pornografi. Juga ada “konsumen,” sosok pengguna yang tidak mengunggah konten pornografi namun menjadi pengikut produser.

Dalam kasus Twitter di atas, @vcrscx merupakan sosok producer yang memiliki lebih dari 208 ribu consumer.

Sayangnya, konten pornografi yang ditransaksikan di media sosial bukan hanya antara produsen-konsumen belaka. Menurut Coletto, ada pula “ unintentionally exposed user ,” yakni pengguna media sosial yang dipaksa mengkonsumsi pornografi di media sosial. Sangat mungkin anak-anak merupakan bagian dari unintentionally exposed user ini.

Meskipun meresahkan, konten pornografi di media sosial merupakan daya tarik tersendiri. Kaskus, misalnya, pernah memiliki sub-forum bernama BB17 yang khusus membahas hal-hal dewasa sebagai daya tarik sebelum akhirnya ditutup demi menghindari permasalahan dengan peraturan perundang-undangan. Sementara itu, sebagaimana dipaparkan Statista , Tumblr mengalami penurunan pengunjung semanjak mereka memerangi pornografi eksis di platform itu.

Di bulan September 2018, Tumblr dikunjungi 568 juta pengunjung aktif bulanan. Namun, dua bulan berselang total kunjungannya berkurang menjadi 538 juta pengunjung aktif. Pada Februari lalu, media sosial ini hanya dikunjungi 369 juta pengunjung aktif.

Konten pornografi mungkin menguntungkan bagi platform media sosial, tetapi unintentionally exposed user, dalam hal ini anak-anak, harus menjadi pihak utama yang dilindungi.

Baca juga artikel terkait PORNOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin